“BANGUNLAH & BERJALANLAH!” IMAN DAN KESEMBUHAN-PELAJARAN 4, *16 - 22 April

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#1


Pelajaran Sekolah Sabat kita pada pekan ini memberikan satu penyegaran kepada kita. Khususnya dibahas mengenai mujizat-mujizat penyembuhan dan pelajaran penting untuk menjadi murid Yesus. Dari yang saya pelajari maka kita akan dapat menyimpulkan sebagai berikut:
  • Mujizat penyembuhan yang kita dapatkan adalah:
    1. Mujizat kesembuhan kepada orang kusta yang dijamah oleh Yesus (Matius 8:1-4)
    2. Mujizat bagi hamba perwira Romawi; hanya dengan kata-kata Yesus dan dari jarak jauh hamba itu sembuh (Matius 8:5-13)
    3. Mujizat kesembuhan bagi yang kerasukan roh-roh jahat—Legion (Matius 8:25-34)
    4. Mujizat kesembuhan bagi orang lumpuh secara fisik dan pengampunan dosa baginya (Matius 9:1-8)
  • Menjadi murid Yesus (Matius 8:18-22; Matius 9:9-13)
    1. Keinginan dan jawaban Yesus kepada seorang ahli taurat yang ingin menjadi murid Yesus.
    2. Permintaan seorang murid sebelum benar-benar mengikuti Yesus
    3. Panggilan dan respons Matius si pemungut cukai terhadap panggilan Yesus

Itulah hal-hal yang dapat kita pelajari untuk pelajaran sekolah Sabat kita sepanjang minggu ini. Mari kita melihat hal-hal yang sangat penting dari pelajaran Sekolah Sabat kita; untuk kehidupan kita saat ini sampai masa kekekalan.

Tentu menyembuhkan seorang yang sakit kusta bukanlah hal yang sangat luar biasa; dibandingkan dengan “kehebatan” Yesus dalam membangkitkan orang mati. Namun ada pelajaran yang luar biasa yang dapat kita ambil dari mujizat penyembuhan orang kusta ini. Yesus “menjamah” orang sakit kusta ini.[1] Tentu bukan hanya bagi orang Yahudi saja yang takut ataupun najis untuk menyentuh orang-orang sakit kusta[2] ; seperti yang dituliskan dalam kutipan tulisan Ellen G. White dalam buku Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 278 “murid-murid berusaha mencegah Guru mereka supaya jangan menjamah orang kusta, karena seorang yang berani menjamah seseorang yang kena penyakit kusta menjadikan dirinya juga najis.”—tentu ada pelajaran yang benar yang dapat kita lihat dari perlakuan Yesus bagi orang kusta itu. Dosa adalah bagaikan kusta rohani, namun Yesus mau untuk menyentuhnya, mengambilnya agar kita dapat menjadi tahir, menjadi kudus dan suci dihadapannya. Sama seperti orang kusta itu ia berkata “Tuan jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku” Ya! Yesus bukan saja mau, tapi juga mau menjamah hidup kita—terlibat aktif untuk memberikan kehidupan yang utuh dalam hidup kita ini.

Penyembuhan terhadap hamba perwira Roma; juga adalah salah satu penyembuhan yang luar biasa. Yesus menyebutkan perwira Roma ini sebagai berikut:

Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.-- Matius 8:10
Perwira ini bukan saja hanya percaya atas kuasa dan kehadiran Yesus secara fisik; tapi lebih dari itu, Ia percaya bahwa tanpa kehadiran fisik dari Yesus, firman-Nya saja—sudah sangat cukup untuk memberikan kesembuhan bagi hambanya yang sedang sakit itu. Kata-kata Yesus sama berkuasanya dengan jamahan-Nya. Menurut perwira ini, bagi Yesus menyembuhkan seseorang bukanlah suatu hal yang sulit. [3] Bagaimanakah dengan kita? Masihkah percaya kepada firman-firman Yesus yang ada dalam Alkitab kita? Masihkah kita yakin bahwa tanpa kehadiran Yesus saat ini secara fisik; Yesus tetap bekerja dengan aktif—kuasa-Nya tetap sama baik dahulu, sekarang bahkan sampai selama-lamanya. Seperti yang tertulis dalam Ibrani 13:8 Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

Penyembuhan juga terjadi pada orang yang kerasukan setan. Yesus megusir 6000 roh jahat yang merasuki dua orang yang ada dipekuburan itu, untuk masuk ke 2000 ekor babi[4] yang akhirnya mati lemas, karena terjun dari tepi jurang kedalam danau. Itulah setan, ia suka merasuki dan merusak kehidupan orang—setan membawa orang yang dirasukinya itu ke pekuburan—tempat kematian! Tidak ada harapan! Kehidupan dua orang yang kerasukan itupun menakutkan! Namun Yesus mengubahkan dan menyembuhkan dua orang itu. Bahkan kedua orang itu menjadi penginjil di daerah Dekapolis. [5] Sekali lagi, Yesus menunjukkan bagaimana citra seorang yang mengikuti Yesus, bukan hanya saja ia dapat menginjil tapi ia juga menjadi tenang, ia berpakaian, dan sudah waras, tidak berbahaya. [6]

Menjadi pengikut Yesus, tentu kita harus tenang, waras dan tidak membahayakan bagi siapapun juga termasuk bagi diri kita sendiri. Lebih jauh lagi, Mujizat Yesus kepada seorang yang lumpuh, dalam Matius 9:1-8; yang menarik adalah perkataan Yesus kepada orang lumpuh ini “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Tentu kata-kata ini telah memberi kesejukan dan kesembuhan didalam hati orang lumpuh tersebut, bahkan sebelum ia disembuhkan. Ellen G. White mengatakan : “Kerinduan orang lumpuh ini yang terbesar itu bukanlah kesembuhan tubuh saja tetapi juga kelepasan dari beban dosa. Jia ia dapat melihat Yesus, dan menerima jaminan keampunan serta mendapat kedamaian dengan surga, ia telah puas walaupun hidup atau mati, dalam menurut akan kehendak Allah.” [7]

Sekarang bagaimana dengan beberapa orang yang ingin menjadi murid Yesus. Tapi jawaban Yesus adalah sebagai berikut:

  1. Kepada ahli Taurat itu Yesus menjawab akan keinginannya untuk mengikuti Dia, Matius 8:20 Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."
  2. Kepada murid yang mau menguburkan ayahnya dahulu sebelum benar-benar mengikuti-Nya Matius 8:22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."
  3. Sedangkan panggilan kepada Matius, pemungut cukai, dicatat oleh Alkitab sebagai berikut Matius 9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
Coba bandingkan ketiga ayat diatas, dan tarik garis kesimpulan dari ayat-ayat diatas. Saya pribadi mendapatkan demikian: bukan berarti Yesus tidak tau menghormati orang tua; dengan menguburkan orang tua yang telah meninggal dahulu; ataupun mengikuti Yesus dengan teori memiskinkan diri. Sekolah Sabat menuliskan sebagai berikut : “ini tidak berarti bahwa seseorang akan kehilangan semua harta duniawi jika ia mengikut Yesus tetapi hanya saja seseorang harus siap melakukan hal yang demikian.” [8] Namun Yesus mau, agar kita memprioritaskan DIA sebagai yang paling utama. Ingat Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Percayalah ketika kita ikut Yesus, Tuhan kita; maka masalah keluarga kita pasti akan terselesaikan, masalah keuangan kita, masalah kesehatan kita! Tuhan pasti akan buka jalan.. Asal kita mau seperti Matius “berdiri dan mengikuti Yesus”—ambil keputusan dan bertindak; hidup sehat, hidup benar, dan hidup kudus didalam Tuhan—maka kita pasti akan merasakan berkat mujizat-mujizat didalam hidup kita sekarang dan sampai masa kekekalan.
Tuhan memberkati



[1] Matius 8:3 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.
[2] Baca Imamat 13:44-50
[3] Pelajaran Sekolah Sabat, Buku Matius, hari senin 18 April 2016, hlm. 43
[4] Bandingkan dengan Markus 5:1-20 dan Lukas 8:26-39; dalam kemiliteran, Legion itu sama dengan 6000 tentara
[5] Markus 5:20
[6] Markus 5:15
[7] Pelajaran Sekolah Sabat, Kitab Matius, Rabu 20 April 2016, hlm 45 dan Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 280.
[8] Pelajaran Sekolah Sabat, Kitab Matius, Kamis, 21 April 2016, hlm 45
 

Attachments

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#2
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Sabtu, 16 April 2016

"BANGUNLAH & BERJALANLAH!" IMAN DAN KESEMBUHAN

SABAT PETANG

BACALAH UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: MATIUS 8; IMAMAT 13:44-50; DANIEL 7:7,8; YOHANES 10:10; MATIUS 9:1-8; 1 YOHANES 1:9.

Ayat Hafalan: "Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?" (Matius 9:5).

Jika seandainya Anda membuat daftar apa yang paling ditakuti dalam hidup, seperti apakah daftar itu akan terlihat? Banyak dari antara kita, akan memasukkan kematian anggota keluarga atau bahkan kematian Anda sendiri dalam daftar itu. Dan sementara hal itu jelas dapat dimengerti, pikirkanlah betapa pemikiran demikian hanya berpusat pada apa yang ada di bumi saja. Hanya memikirkan mengenai kehidupan saat ini semata-mata. Apakah benar dan sesungguhnya hal inilah yang paling kita takutkan, kehilangan hidup di dunia, terutama jika hal itu tidak pernah bertahan selama itu?

Jika seandainya Tuhan membuat daftar apa yang sangat ditakuti-Nya, pastilah hal itu berhubungan dengan kehilangan kehidupan kekal entah keluarga kita atau kita sendiri.

Tentu saja Tuhan memedulikan sakit fisik dan kematian kita, tetapi yang paling la pedulikan adalah sakit rohani dan kematian kekal. Walaupun Yesus menyembuhkan banyak orang, dan bahkan menghidupkan kembali yang telah mati, kebangkitan itu hanyalah sementara. Toh mereka semua mengalami kematian fisik, kecuali orang-orang kudus yang Yesus bangkitkan pada kebangkitan-Nya sendiri. (Lihat the SDA Bible Commentary, jld. 5, hIm. 550 dan Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 2, hlm. 438.)

Meskipun semuanya dilakukan demi kita, rencana keselamatan tidak menghindarkan kita dari sakit dan kematian di dunia ini. Dengan pemikiran ini, marilah kita memerhatikan beberapa kisah penyembuhan, baik fisik maupun rohani, dan lihatlah pelajaran penting mengenai iman yang dapat diperoleh dari kisah-kisah ini.

*Pelajarilah pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat, 23 April.
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#3
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Minggu, 17 April 2016

Menyentuh yang Tidak Dapat Disentuh

Setelah mengkhotbahkan Khotbah di atas Bukit, di mana Ia menjelaskan prinsip-prinsip kerajaan Allah, Yesus berhadapan kembali dengan kerajaan Setan, suatu tempat yang gelap dan dingin yang penuh dengan orang-orang yang membusuk mengerang untuk penebusan, tempat yang prinsip-prinsipnya seringkali bertentangan dengan segala sesuatu yang la pertahankan. Dan pada saat itu salah satu contoh terbaik betapa malang dan terpuruk jadinya wilayah Setan dapat terlihat pada penyakit kusta. Walaupun kadang kala digunakan sebagai bentuk hukuman Ilahi, seperti pada kasus Miryam (lihat Bil 12:9-12), dalam konteks Alkitab yang lebih luas hal itu adalah contoh yang kuat dan mengerikan akan apa artinya hidup di dunia yang telah jatuh dan rusak.

Bacalah Matius 8:1-4. Apakah pentingnya yang dapat dilihat pada kenyataan bahwa, dalam menyembuhkan seorang yang sakit kusta ini, Yesus menjamahnya (Iihat, contohnya, Im. 13:44-50)?

Penderita kusta ini bertelut di hadapan Yesus dan berkata, "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku" (Matius 8:2). Bahasa Yunani untuk kata "dapat" adalah dunamai, seperti "dynamite" dalam bahasa Inggris. Yang berarti penuh dengan kuasa. "Jika Tuan mau, Tuan penuh dengan kuasa dan dapat mengubah hidupku." Yesus berkata Dia bersedia menyembuhkan penderita kusta itu dan dengan segera terjadilah demikian.

Fakta bahwa Yesus menyentuhnya sudah pasti menggemparkan orang banyak yang melihat apa yang terjadi. Tentu saja, sebagaimana yang Dia lakukan pada kesempatan lain (seperti penyembuhan yang dicatat berikutnya), Yesus dapat melakukan hanya dengan berbicara, dan orang itu menjadi sembuh. Mengapakah Ia menjamahnya?

"Pekerjaan Kristus dalam menyembuhkan orang kusta dart penyakitnya yang mengerikan itu, menjadi suatu ilustrasi tentang pekerjaan-Nya dalam menyucikan jiwa dari dosa. Orang yang datang pada Yesus itu penuh dengan kusta. Racun penyakit yang mematikan itu merajalela pada seluruh tubuhnya. Murid-murid berusaha mencegah Guru mereka supaya jangan menjamah orang kusta, karena seorang yang berani menjamah seseorang yang kena penyakit kusta menjadikan dirinya juga najis.... Jamahan-Nya memberikan kuasa yang memberi hidup. Penyakit kusta disembuhkan. Demikian pula dengan kusta dosa, yang telah berakar dalam, mematikan dan mustahil disucikan oleh kuasa manusia."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, him. 278.

Barangkali, dengan menyentuh orang yang sakit kusta itu, Yesus menunjukkan bahwa tidak peduli betapa buruk sekalipun adanya dosa kita, Ia akan mendekat kepada mereka yang rela untuk diampuni, disembuhkan, dan disucikan dari dosa. Siapakah yang Anda kenal, sekarang ini, sedang menderita sesuatu yang kita lihat hari ini sebagai "penderita kusta"—yakni, apa saja yang membuat seseorang mundur ketakutan dan karena tanggapan orang lain? Bagaimanakah teladannya Yesus dapat menolong Anda memahami bagaimana caranya berhubungan dengan orang itu?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#4
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Senin, 18 April 2016

Orang Roma dan Mesias

Ada alasan tepat sehingga kitab Daniel menggunakan banyak waktu berhubungan dengan Roma (lihai Daniel 7:7, 8, 19-21; Daniel 8:9-12, 23-25). Dan itu adalah karena kuasanya yang besar, yang juga berlangsung pada zaman Kristus. Meskipun demikian, seorang perwira Romawi, bukan saja sebagai lambang kekuasaan Roma tetapi mengungkapkan kekuasaan itu, datang kepada Yesus. Orang itu tidak berdaya menghadapi cobaan dan tragedi yang biasa terjadi menimpa kita semua. Suatu pelajaran mengenai keterbatasan yang dapat dilakukan oleh kekuasaan duniawi. Para pemimpin hebat dan paling berpengaruh, pria dan wanita terkaya, tetap tidak berdaya menghadapi pergumulan hidup yang lazim. Sebenarnya, tanpa pertolongan Ilahi, harapan apakah yang kita miliki?

Bacalah Matius 8:5-13. Apakah kebenaran mengenai iman dan apakah artinya memiliki iman yang ditunjukkan dalam cerita ini? Apakah yang dikatakannya kepada kita, sebagai Orang Advent, mengingat kesempatan istimewa yang kita miliki?

Seorang perwira adalah pejabat militer yang biasanya mengawasi sejumlah prajurit antara 80 hingga 100 orang. Telah bertugas dalam kemiliteran sekitar dua puluh tahun, dia tidak dibenarkan untuk berkeluarga secara sah. Dengan demikian, hamba perwira ini mungkin adalah satu-satunya yang benar-benar keluarganya.

Budaya saat itu, seseorang yang lebih dibenci daripada orang kafir seperti perwira ini adalah seorang yang berpenyakit kusta; jadi, perwira ini barangkali berpikir bahwa Yesus tidak mau masuk ke rumahnya, walaupun Yesus mengatakan bahwa Ia hendak pergi menyembuhkan. Dengan hanya memohonkan kata-kata Yesus saja, tanpa kehadiran-Nya yang secara fisik, perwira ini menunjukkan iman yang besar yang ditujukkan kepada kita sekarang ini: Kata-kata Yesus sama berkuasanya dengan jamahan-Nya. Menurut perwira ini, bagi Yesus menyembuhkan seseorang bukanlah suatu hal yang sulit. Hal itu serupa dengan seorang pejabat militer yang memberikan perintah kepada seorang prajurit, yang terjadi setiap waktu.

Lihatlah juga apa yang Yesus katakan dalam Matius 8:11, 12. Betapa satu peringatan keras bagi mereka yang telah memperoleh kesempatan istimewa yang besar. Kita juga, sebagai anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, telah diberikan kesempatan istimewa yang besar, dan harus memerhatikannya.

Kebiasaan dan pilihan sehari-hari apakah yang Anda buat? Lebih penting lagi, bagaimanakah pilihan-pilihan ini memengaruhi imanmu? Apakah yang Anda dapat lakukan untuk membuat pilihan yang akan menjadikan imanmu bertumbuh?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#5
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Selasa, 18 April 2016

Roh-roh Jahat dan Babi-babi

Bacalah Matius 8:25-34. Apakah yang diajarkan oleh kedua catatan ini mengenal kuasa Allah? Bagaimanakah kita dapat dikuatkan dari apa yang kita lihat di sini tentang kuasa-Nya, khususnya ketika kita bergumul dengan hal-hal yang jauh Iebih besar daripada diri kita?

Dalam pemikiran orang Yahudi adalah hak prerogatif Allah untuk menguasai alam dan roh jahat. Setelah meredakan badai ganas dengan kata-kata sederhana (Matius 8:23-27), Yesus melangkah ke pantai timur Danau Galilea, yang bukan saja wilayah orang Kafir tetapi di mana hidup beberapa orang yang kerasukan Setan.

Markus 5:1-20 dan Lukas 8:26-39 menambahkan keterangan untuk kisah orang yang kerasukan setan. Roh jahat itu menyebut dirinya "legion." Satu legion dalam kemiliteran terdiri dari 6.000 tentara. Roh-roh jahat itu disuruh memasuki 2.000 ekor babi.

Banyak orang bertanya-tanya mengapa roh-roh jahat itu disuruh memasuki babi-babi itu. Salah satu tradisi mengajarkan bahwa roh jahat paling benci berkeliaran tanpa melakukan apa-apa; mereka Iebih suka memiliki tempat tinggal seperti itu, bahkan tinggal pada babi yang kotor sekalipun. Tradisi yang lain mengajarkan-bahwa roh jahat takut air, dan Yesus sendiri merujuk mengenai roh jahat yang mencari tempat-tempat yang tandus (lihat Matius 12:43). Ada juga tradisi Yahudi yang mengajarkan bahwa roh jahat akan dibinasakan sebelum penyataan hari Tuhan yang terakhir.

Namun, yang terpenting adalah hal ini: Kondisi rusak orang-orang dalam kisah ini itulah tepatnya kondisi rusak yang Setan inginkan bagi anak-anak Allah. Tetapi Yesus benar-benar mengubah kehidupan mereka. Semua yang diusahakan Setan lakukan dalam hidup kita, Yesus mampu dan mau melepaskan mereka yang memilih menyerahkan dirinya kepada Kristus. Kalau tidak, kita tidak berdaya melawan lblis.

Kita harus berada dalam salah satu pihak dalam pertentangan besar. Tidak peduli seberapa kejam dan tidak berkompromi kedengarannya, Yesus tidak pernah menyatakan kebenaran ini dengan Iebih jelas lagi daripada yang Dia lakukan ketika Dia berkata: "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan" (Lukas 11:23). Di pihak mana kita berada itu tergantung kita.

Bacalah Yohanes 10:10. "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." Bagaimanakah hal ini berlaku, bukan hanya kepada yang kerasukan tetapi kepada diri kita dan kepada hidup kita? Dalam hal apakah kita dapat dan harus mengalami apa yang dijanjikan di sini?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#6
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Rabu, 20 April 2016

"Bangkit dan Berjalanlah!"

Dalam pelajaran hari Senin, kita memerhatikan bahwa Yesus berkata kepada perwira itu bahwa Ia tidak menemukan seorang pun di Israel dengan iman sebesar ini. Tetapi, di waktu yang sama di Israel, adalah seorang yang telah sampai di tempat di mana kerinduannya untuk kesembuhan hatinya justru lebih daripada kesembuhan tubuhnya.

Bacalah Matius 9:1-8. Harapan besar apakah yang harus kita ambil bagi diri kita dari kisah ini sehubungan dengan janji pengampunan dosa-dosa kita, tidak peduli apa pun dosanya atau kerusakan yang telah dibuatnya? Lihat juga Roma 4:7; 1 Yohanes 1:9; 1 Yohanes 2:12.

Betapa menarik bahwa hal pertama yang Yesus tangani ketika seorang lumpuh dibawa kepada-Nya adalah kondisi kerohaniannya. Yesus, tentu saja, tahu persis apa masalahnya yang sebenarnya. Meskipun keadaan fisik orang ini menyedihkan, Kristus mengetahui bahwa masalah lebih dalam adalah perasaan bersalah orang ini atas apa yang pasii telah terjadi dalam kehidupan yang sangat berdosa. Karena itu, mengetahui kerinduan orang ini akan pengampunan, Yesus mengucapkan kata-kata yang terbesar dan paling menghibur bagi siapa saja yang memahami realitas dan beban dosa itu: "Dosamu sudah diampuni."

Ellen G. White menambahkan: "Kerinduannya yang terbesar itu ialah bukannya kesembuhan tubuh saja tetapi juga kelepasan dari beban dosa. Jika ia dapat melihat Yesus, dan menerima jaminan keampunan serta mendapat kedamaian dengan surga, ia telah puas walaupun hidup atau mati, dalam menurut akan kehendak Allah."--Alfa dun Omega, jld. 5, hlm. 280.

Pendeta Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sering berkhotbah mengenai memiliki iman yang cukup untuk tidak sembuh. Inilah iman yang terbesar dari semua: Ketika kita melihat lebih jauh dari kondisi fisik dan lebih berfokus pada hal yang kekal. Begitu sering permohonan doa kita adalah mengenai kebutuhan-kebutuhan fisik kita, dan Allah memedulikan hal-hal ini. Tetapi dalam Khotbah-Nya di Atas Bukit, Yesus mengatakan kepada kita untuk "mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya." Dengan demikian, pada akhirnya, terlepas dari kebutuhan langsung fisik kita, betapa pentingnya kita selalu memegang hal-hal yang kekal di depan kita di dunia di mana begitu banyak yang hanya sementara dan cepat berlalu.

Apa pun pergumulan-pergumulan fisik kita, bahkan dalam kasus skenario yang terburuk, semua itu akan selalu dan hanya sementara. Mengapakah sangat penting bahwa kita jangan pernah melupakan kebenaran ini?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#7
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Kamis, 21 April 2016

Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati

Bacalah Matius 8:18-22. Apakah yang Yesus katakan kepada orang-orang ini mengenai apa artinya mengikut Dia?

Pertama, dalam Matius 8:18-22, kita melihat dua orang mendekati Yesus dengan kerinduan untuk menjadi murid-Nya. Keduanya tulus; namun, keduanya kelihatan berbalik karena sesuatu. Yesus yang mengetahui semua pikiran kita, langsung ke inti persoalan. Dia mempertanyakan apakah orang pertama itu benar-benar bersedia menyerahkan segalanya—termasuk tempat tidurnya sendiri!—untuk mengikut Dia. Ini tidak berarti bahwa seseorang akan kehilangan semua harta duniawi jika ia mengikut Yesus tetapi hanya saja seseorang harus siap melakukan hal yang demikian.

Yesus kemudian bertanya pada orang kedua apakah dia benar-benar bersedia menempatkan Yesus lebih utama dari keluarganya sendiri. Dilihat sekilas, kata-kata-Nya kepada orang kedua tampak sangat keras. Yang ingin dilakukan orang itu hanya untuk menguburkan ayahnya. Mengapa dia tidak bisa melakukan hal itu dulu, dan kemudian mengikut Yesus, terutama dalam iman Yahudi tindakan itu dianggap bagian dari penurutan hukum kelima untuk memastikan bahwa orang tua seseorang telah dikuburkan dengan baik?

Namun, beberapa penafsir berpendapat bahwa ayah dari orang ini bahkan belum meninggal, atau telah meninggal saat itu; melainkan orang ini pada intinya mengatakan kepada Yesus, izinkanlah saya menyelesaikan semua urusan keluargaku, dan kemudian aku akan mengikuti-Mu.

Oleh karena itu, jawaban Yesus demikian.

Panggilan pemuridan yang lain terdapat dalam Matius 9:9-13, yakni panggilan kepada Matius, seorang pemungut cukai yang dibenci. Yesus mengenal hati orang ini, yang jelas-jelas terbuka bagi kebenaran, sebagaimana ditunjukkan oleh reaksinya terhadap panggilan itu. Yesus tahu dengan pasti reaksi apa yang akan terjadi dengan memanggil seseorang seperti Matius, demikianlah terjadi, seperti yang ditunjukkan oleh ayat itu. Dari sudut pandang kita sekarang ini, adalah sukar melihat betapa menjengkelkannya keadaan status quo kepada seseorang seperti Matius bagi orang-orang saat itu. Apa yang kita lihat di sini adalah salah satu contoh betapa bersifat menyeluruh sebenarnya panggilan Injil itu.

Bacalah Matius 9:13. Meskipun konteksnya berbeda, bagaimanakah prinsipnya dapat diterapkan sekarang ini, sekalipun kita mengganti gagasan "persembahan" dengan "pengorbanan Yesus"? Artinya, bagaimanakah kita dapat berhati-hati supaya kita tidak sedang membuat keyakinan atau praktik agama yang, bagaimanapun benarnya, menghalangi untuk melakukan apa yang sebenarnya penting bagi Tuhan?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#8
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Jumat, 22 April 2016

PENDALAMAN: Bacalah tulisan Ellen G. White "Tuhan dapat Mentahirkan Aku," hlm. 273-285, dalam Alfa dan Omega, j1d. 5.

Orang Jerman mempunyai pepatah, "Einmal in keinmal." Yang artinya, secara harfiah, "Sekali adalah tidak sama sekali." Suatu ungkapan yang menggambarkan bahwa jika sesuatu terjadi hanya sekali, maka hal itu tidak diperhitungkan. Tidak menjadi persoalan. Jika terjadi hanya sekali, hal itu sama dengan tidak pernah terjadi sama sekali. Apakah Anda setuju atau tidak, pikirkanlah pendapat ini dalam konteks pelajaran hari Kamis, ketika Yesus berkata kepada seorang yang ingin menguburkan ayahnya dulu dan kemudian menjadi murid: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka" (Mat. 8:22). Apakah yang Yesus maksudkan dengan menyiratkan bahwa orang itu, orang yang masih hidup, sudah mati? Nah, jika "Einmal ist keinmal," jika "sekali adalah tidak sama sekali," maka hidup di dunia ini hanya sekali, tanpa diikuti oleh kehidupan di masa kekekalan, maka Anda mungkin juga tidak pernah dilahirkan sama sekali. Anda mungkin juga sudah mati sekarang (lihat Yohanes 3:18). Para pemikir sekular yang tidak percaya dengan kehidupan di seberang kematian, mengeluhkan atas tidak berartinya hidup ini yang hanya ada satu kali saja, dan juga hanya untuk waktu yang singkat, sebelum menghilang untuk selama-lamanya. Mereka bertanya, apakah maknanya hidup ini, jika setelah tugas singkat ini kita akan pergi untuk selama-lamanya dan dilupakan selama-lamanya? Tidak heran, kemudian, bahwa Yesus mengatakan apa yang dilakukan-Nya. la berusaha menunjukkan kepada orang itu pada realitas yang lebih besar daripada yang ditawarkan dunia ini, apa yang di dalam dan dari bumi ini.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Dengan ide yang ditunjukkan di atas, kembalilah dan bacalah kisah dalam kitab Matius ketika Yesus mengatakan apa yang dilakukan-Nya kepada orang itu mengenai menguburkan ayahnya. Apakah yang kisah ini katakan kepada kita mengenai betapa pentingnya melihat dengan berpandangan luas (dan ketika kita katakan "luas," kita maksudkan benar-benar luas) dalam pikiran kita dengan semua yang kita lalukan? Bagaimanakah teologi kita menolong kita untuk memahami betapa luasnya hal itu sebenarnya?
  2. Kita tidak selalu memahami kehendak Allah bagi kesembuhan fisik, tetapi kita selalu mengetahui kehendak-Nya bagi kesembuhan rohani. Dalam cara bagaimanakah pemahaman ini memengaruhi kehidupan berdoa Anda?
  3. Apakah hal-hal yang sangat penting bagi Anda? Buatlah daftar dan bawalah daftar itu ke UKSS Anda. Apakah yang dapat Anda pelajari dari setiap prioritas orang lain? Apakah yang prioritas kita ajarkan kepada kita mengenai diri kita sendiri dan mengenai pandangan kita akan dunia ini, akan Allah, dan setiap orang lain? Betapa berbedakah jadinya daftar itu jika saja sekelompok ateis melakukan hal yang sama?