What's new

BERHALA JIWA (DAN PELAJARAN LAIN DARI YESUS)-PELAJARAN 9, *21 - 27 Mei

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#1


Sesuai dengan ayat inti pelajaran sekolah Sabat kita yang terdapat dalam Matius 18:1 Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga? Sering dalam hidup ini kita mengilahkaan “diri” kita sendiri, kita ingin dihormati, ingin menjadi nomor satu, ingin duduk paling depan dan banyak sekali keinginan kita untuk diri kita sendiri atau mungkin keluarga atau kaum kita sendiri. Pelajaran Sekolah Sabat kita kali ini, akan banyak membahas mengenai hal-hal diatas, beserta beberapa pelajaran lain dari Yesus yang juga tidak kalah penting.

Tidak diragukan lagi, Allah juga ingin agar setia manusia berusaha untuk mendapatkan sesuatu dengan sebaik mungkin. Sesuai dengan Pengkhotbah 9:10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. Kita diminta untuk sekuat tenaga untuk meraih sesuatu. Bagi saya pribadi bukan hanya sekuat tenaga tapi dengan segala pertimbangan, pengetahuan, hikmat dan kerja untuk mendapatkan yang terbaik atas apa yang kita temui diatas dunia ini—mumpung masih hidup. Namun disisi yang lain juga Matius 18:1-4 mengajarkan kepada kita untuk menjadi seperti anak kecil. Salah satu indikator kerendahan hati seperti anak kecil adalah penurutan, menempatkan Firman Tuhan didepan kehendak kita sendiri.[1]

Jika demikian bagaimana kita menyepadankan Matius 18:1-4 dengan Pengkhotbah 9:10? Garis lurus yang dapat kita ambil adalah bahwa dengan segala pertimbangan, hikmat, pengetahuan dan pekerjaan yang kita miliki ketika masih hidup; kita harus bawa itu semua dengan sekuat tenaga kedalam penurutan akan Firman Tuhan. Saya percaya jika kita sungguh-sungguh membawa segala sesuatu yang Tuhan telah percayakan pada kita untuk diserahkan kembali kepada Tuhan, maka Ia akan melipatgandakan segala sesuatu yang kita punyai saat ini.

Apalagi yang dapat kita pelajari dari anak-anak kecil? Ya benar! Mereka mudah mengampuni kesalahan teman-teman sebayanya; bahkan kesalahan orang tua mereka. Ketika anak saya Delano, berkelahi dengan teman atau adiknya, tidak lama mereka akan cepat berbaikan. Ketika saya menasehati Delano dan Darell, mereka menangis, tidak lama lagi mereka akan kembali memeluk saya sebagai Papa mereka. Itulah makna pengampunan. Dalam Matius 18:15-35 memberikan langkah-langkah dalam menasehati dan mengampuni seseorang. Mulai dari empat mata, dibawakan seorang penasihat dan seterusnya. Namun demikian signifikan yang terpenting dari ayat diatas terdapat dalam ayat berikut ini, ketika Petrus bertanya perihal pengampunan. Demikian ayatnya:

Matius 18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"

Matius 18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Tuhan meminta kita mengampuni, sampai tujuh puluh kali tujuh kali bukan berarti 490 kali atau 3430 kali. Namun memberikan pengampunan itu tanpa henti. Mengampuni seseorang bukan demi keuntungan bagi orang lain tetapi juga bagi kita sendiri.[2] Pengampunan yang memberikan rasa damai, ketenangan, dan sukacita baik bagi kita yang mengampuni dan yang menerima pengampunan itu sendiri.[3]

Itu semua bisa kita miliki bila kita benar-benar mengosongkan hati kita untuk dapat diisi oleh Firman Tuhan dan kasi karunia Allah. Roma 3:28, Galatia 3:21-22, Roma 7:7 dengan jelas memberikan pemaparan kepada kita bahwa kita tidak pernah diselamatkan oleh hukum, ataupun oleh penurutan. Penurutan sendiri sebenarnya adalah hasil dari penyelamatan. Karena kita sudah diselamatkan, sudah terima pengampunan dari Allah, sudah terima kasih melimpah dari Allah melalui iman kita pada Yesus; maka sekarang kita mau menurut, mau ikuti perintah Allah bukan lagi supaya selamat, namun karena sudah selamat. Ilustrasi yang sering saya pakai adalah: “saya mencintai orang tua saya, sayang kepada mereka, menjaga nama baik mereka bukan lagi supaya saya menjadi anak orang tua saya lagi. Namun karena saya sudah menjadi anak mereka, sudah merasakan lebih dahulu kasih sayang mereka, dan sudah dibimbing untuk menjadi anak yang baik.” Demikian juga dengan penurutan kita kepada Tuhan. Menurut bukan supaya selamat atau supaya bisa menjadi anak-anak Tuhan, tapi sebaliknya menurut karena sudah selamat dan sudah menjadi anak-anak Tuhan, melalui iman kepada-Nya.

Cerita dalam Matius 19:16-30 bukan mengatakan bahwa penurutanlah yang akan menyelamatkan orang muda yang kaya itu.[4] Namun ada sesuatu yang harus ia lepaskan, yang harus ia kosongkan untuk dapat menerima kasih karunia Allah—dalam hal ini adalah uang. Apa yang akan kita dapatkan karena telah mengosongkan segala sesuatunya? Meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus?[5] Ini juga menjadi pertanyaan para murid Yesus pada waktu itu. Dan inilah jawaban Yesus.

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.-- Matius 19:28-29 Apakah ini pasti akan kita dapatkan? Ya! Atas dasar apa kepastian itu? Atas dasar iman kepercayaan kepada Yesus melalui firman Tuhan yang ada ditangan kita saat ini—Alkitab.

Kemudian sebagaimana cerita dalam Matius 20:20-27. Yakobus dan Yohanes yang meminta untuk dapat duduk disebelah kanan dan kiri Yesus. Kemudian Yesus bertanya kepada mereka dapatkah kamu meminum cawan yang akan Aku minum? Jawaban Yakobus dan Yohanes, ya kami dapat meminumnya. Cawan itu adalah cawan penderitaan, cawan pelayanan! Maukah kita mengosongkan hati kita untuk menerima kasih karunia keselamatan yang berasal dari Yesus? Maukah kita mengosongkan hati kita untuk melayani kepada sesama manusia? Maukah kita mengosongkan hati kita untuk siap didalam setiap penderitaan dan pergumuluan ketika mengikuti TUHAN? Menjadi bahan perenungan kita sepanjang masa. Yakinlah Tuhan Yesus pasti memampukan, asal kita mau mengosongkan diri kita, menuruti Firman Tuhan dan mengasihi sesama manusia. Tuhan pasti memampukan! Percayalah!
Tuhan memberkati


[1] Pelajaran Sekolah Sabat, Kitab Matius, hari minggu 22 mei 2016, hlm. 102
[2] Pelajaran Sekolah Sabat, kitab Matius, hari senin 23 mei 2016, hlm. 103
[3] Baca Keluaran 32:32, Kisah 5:31, Kolose 1:14
[4] Bandingkan dengan Markus 10:17-27, Lukas 18:18-27
[5] Matius 19:27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?"
 

Attachments

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#2
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Sabtu, 21 Mei 2016

SABAT PETANG

Ayat Hafalan: "Pada waktu itu datanglah murid-rnurid itu kepada Ye- sus dan bertanya: `Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" (Mathis 18:1).

Sebagai manusia, kita adalah produk lingkungan kita, dari kebudayaan kita. lni semua sangat membentuk nilai-nilai, keyakinan, dan sikap kita. Apakah Anda dibesarkan di daerah kota metropolitan yang besar atau di

kampung yang tidak memiliki air bersih, itu tidak membuat perbedaan: Kebudayaan, lingkungan di mana Anda dibesarkan sangatlah berpengaruh terhadap keberadaan Anda. Dan meskipun Anda dapat berpindah ke Iingkungan yang barn, lingkungan di. mana Anda telah dibesarkan akan membekas pada diri Anda Sampai Mati.

Celakanya, sampai pada taraf tertentu, kebanyakan dari lingkungan dan kebudayaan kita berjalan bertentangan dengan prinsip-prinsip kerajaan Allah. Bagaimanapun, dunia ini adalah dunia yang telah jatuh, dan nilai-nilai, moral, dan kebiasaannya seringkali mencerminkan keadaan yang telah jatuh itu. Apa lagikah yang dapat dieerminkannya? Sudafi sangat sulit bagi kita untuk melihatnya karena kita telah tenggelam dalam kebudayaan dan Iingkungan kita.



Pekerjaan Allah di dalam hati kita, di antaranya, untuk menunjukkan kita kepada nilai-nilai, moral, dan standar kerajaan Allah. Sebagaimana yang kita akan lihat pekan ini, nilai-nilai, moral, dan standar itu seringkali sangat berbeda dengan yang di mana kita dilahirkan dan dibesarkan. Murid-murid harus mempelajari pelajaran ini; kita juga demikian.
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#3
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Minggu, 22 Januari 2016

"Kebesaran Kerendahan Hati"

Siapakah yang tidak mendambakan keagungan? Maksudnya, siapakah yang tidak mau menjadi besar atau melakukan hal-hal yang besar? Keinginan ini tidaklah selalu harus muncul dari sifat mementingkan diri atau dari ego atau kesombongan. Ini bisa saja dengan melakukan yang terbaik pada apa pun yang Anda dapat lakukan, barangkali dengan berharap bahwa apa yang Anda lakukan dapat menjadi berkat kepada orang-orang lain (lihat juga Pengkhotbah 9:10).

Namun, masalahnya muncul dalam mendefinisikan "yang terbesar." Begitu mudah untuk pikiran manusiawi kita yang telah jatuh memahami konsep dengan cara yang sangat berbeda dengan pandangan Allah.

Bacalah Matins 18:1-4. Bagi Yesus, apakah kebesaran yang sejati, dan bagaimana kita memahaminya dengan eara yang kita dapat menerapkannya dalam kehidupan kita sendiri?

Untuk mendefinisikan kebesaran yang sejati, Yesus memanggil seorang anak berdiri di hadapan-Nya dan berkata bahwa "barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga" (Matins 18:4). Yesus tidak berbicara mengenai menjadi seorang pengkhotbah besar, atau seorang pengusaha besar, ataupun seorang dermawan besar. Yang terbesar, di hadapan Allah, apa yang ada di dalam kita, bukan apa yang kita lakukan secara eksternal, meskipun tidak diragukan apa yang ada di dalam akan memengaruhi apa yang kita lakukan secara eksternal.

Perhatikanlah, Yesus mendefinisikan kebesaran tidak seperti cara yang ke--- banyakan orang di dunia ini definisikan. Lagi pula, siapakah yang suatu hari bangun dan memutuskan bahwa kebesaran yang dia inginkan dalam hidup yakni untuk merendahkan diri seperti seorang anak kecil? Tampaknya aneh bagi kita, mendambakan hal seperti. itu, tetapi itu hanya karena kita sudah begitu tercemar oleh prinsip-prinsip, ide-ide, dan konsep-konsep dunia.

Apakah artinya menjadi rendah hati seperti seorang anak kecil? Salah satu indikator kerendahan hati adalah penurutan, menempatkan Firman Tuhan di depan kehendak kita sendiri, Jika Anda berada di jalan yang salah dalam hidupmu, maka itu karena Anda berada pada jalanmu sendiri. Solusinya mudah: Rendahkan diri dan kembali kepada jalan Tuhan lewat penurutan pada FirmanNya. Jika Adam dan Hawa tetap rendah hati, mereka tidak akan berdosa. Adalah menarik untuk direnungkan bahwa pohon kehidupan dan pohon pengetahuan keduanya terletak di tengah-tengah taman itu. Seringkali kehidupan dan kebinasaan tidak terpisah jauh. Jaraknya adalah kerendahan hati.

Apakah saja sikap-sikap dan ide-ide lainnya yang kita pegang hanya karena -hubungan kita dengan dunia, sikap-sikap dan ide-ide yang bertentangan dengan Firman Tuhan? Bawalah jawaban Anda ke UKSS pada hari Sabat.
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#4
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Senin, 23 Mei 2016

"Kebesaran Pengampunan"

Salah satu konsekuensi terburuk dari Kejatuhan terlihat dalam hubungan antar pribadi. Sejak Adam berusaha untuk mempersalahkan Hawa karena dosanya, (Kejadian 3:12) sampai saat ini di dunia sekarang ini, bangsa kita telah hancur dan rusak karena konflik antar pribadi. Celakanya, konflik bukan hanya di dunia tetapi juga di dalam gereja.

Bacalah Matius 18:15-35. Apakah yang Yesus katakan kepada kita di sini? Walaupun demikian, mengapakah kita sering tidak mengikuti firman-Nya bagi kita?

Mari kita selesaikan: Lebih mudah melakukan sesuatu sembunyi-sembunyi dan mengeluh tentang orang lain daripada berhadapan langsung kepada yang bersangkutan dan menghadapi masalahnya. Dan itu lab mengapa kita tidak ingin melakukannya, meskipun telah disuruh oleh Tuhan untuk melakukannya. Walaupun demikian, Yesus mengajarkan kepada kita untuk pergi langsung kepada seseorang yang telah menyakiti kita dan berusaha.untuk memulihkan hubungan balk. Jika orang itu tidak terima, maka ikuti petunjuk selanjutnya.

"Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka" (Matius 18:20). Lihatlah konteksnya di sini; ini mengenai disiplin dan mengembalikan orang lain. (Kita cenderung mengaplikasikan ayat ini secara lebih luas).

Yesus berkata bahwa Roh Kudus hadir ketika sekelompok kecil berusaha untuk mengembalikan seorang percaya. Di sinilah indahnya karya Penebusan itu. Dan hal itu dimulai dengan rendah hati melakukan hal yang benar dan berbicara secara langsung dengan seseorang yang telah menyakititnu. Ini juga, menjadi sebuah contoh lain kebesaran pada mereka yang melakukannya.

Bacalah Matius 18:21-35 sekali lagi. Hal penting apakah yang Yesus. buat?

Ketika Yesus berkata untuk "mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali," apa yang sebenarnya Ia katakan adalah kita seharusnya tidak pernah berhenti mengampuni seseorang, bukan demi keuntungan bagi orang lain tetapi bagi diri kita sendiri. Lihatlah betapa kerasnya perumpamaan yang la katakan untuk menyampaikan maksudnya. Kita dapat diampuni dalam banyak hal; dan hanya mengenai itulah Injil itu, pengampunan (lihat Keluaran 32:32, Kisah 5:31, Kolose 1:14), tetapi jika kita tidak mengampuni orang lain seperti kita telah diampuni oleh Allah, kita akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan.

Mengapakah begitu penting, merenungkan Salib, akan pengampunan yang kepada kita diberikan karena salib? Jika Allah telah melakukannya bagimu, jika demikianlah caranya untuk mengampuni Anda, bagaimanakah Anda dapat belajar mengampuni orang lain, tidak peduli seberapa mustahil pun kelihatannya pengampunan itu sekarang?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#5
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Selasa, 24 Mei 2016

"Berhala Jiwa"

Bacalah Matius 19:16-30. Sebagai orang Kristen Perjanjian Baru, bagaimanakah kita menghubungkan kisah ini sekarang ini? Pelajaran apakah yang dapat kita am bil di sini bagi diri kita?

Meskipun tidak banyak yang dikatakan kepada kita lebih khusus mengenai orang ini, kita dapat memetik pelajaran yang penting. Ia seorang yang kaya, seorang pemimpin (lihat.Lukas 18:18), dan tampaknya seorang pengikut hukum Tuhan yang sangat taat. Kita juga dapat mengetahuinya, bahwa ia merasakan ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. Hal ini mengingatkan sebagian kecil kisah Martin Luther; walaupun secara lahiriah seorang biarawan yang saleh, di dalam batin ia tidak merasa puas dengan kehidupan rohaninya dan ia bergumul akan kepastian keselamatan. Dalam kedua kasus ini, mereka merasakan bahwa kesenjangan besar antara diri mereka dan Tuhan tidak akan terisi dengan perbuatan lahiriah mereka.

"Penghulu ini mempunyai penilaian yang tinggi tentang kebenarannya sendiri. Ia sebenarnya tidak mengira bahwa ia bercacat dalam sesuatu, namun ia sama sekali tidak puas. la merasakan kekurangan sesuatu yang tidak dimilikinya. Tidak dapatkah Yesus memberkatinya sebagaimana Ia memberkati anak-anak kecil, serta memuaskan jiwanya?"—Ellen G. White, Alfa dan Omega, j1d. 6, hlm. 136.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa, dalam kisah ini, Yesus mengajarkan bahwa kita menerima hidup kekal berdasar pada perbuatan baik kita. Apalagi, dalam Matius 19:17 Yesus berkata, "Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Seandainya hanya ini ayat mengenai topik ini, seseorang akan membuat argumen di sini. Tetapi begitu banyak ayat-ayat lain, terutama dalam tulisan Paulus, mengajarkan bahwa hukum tidak menyelamatkan tetapi mengarahkan kepada kebutuhan kita akan keselamatan (lihat Roma 3:28; Galatia 3:21, 22; Roma 7:7). Sebaliknya, Yesus pasti sedang menuntun orang ini untuk mengetahui kebutuhannya yang terbesar lebih daripada apa yang sedang dia lakukan. Lagi pula, jika memelihara hukum saja sudah cukup, maka orang itu seharusnya telah memperoleh keselamatan, karena ia telah memeliharanya dengan cermat. Injil perlu menembus sampai ke hati, sampai tepat kepada berhala jiwa, dan apa pun yang kita pegang yang menjadi penghalang hubungan kita dengan Allah perlu disingkirkan. Dalam kasus ini, hal tersebut adalah uangnya. Yesus memerhatikan betapa sulitnya bagi orang kaya diselamatkan; namun demikian segera setelah percakapan itu, Lukas mencatat sebuah kisah yang indah tepat sebagaimana hal itu terjadi (lihat Lukas 19:1-10).

Seandainya Anda berada di posisi orang kaya ini, dan Anda menanyakan kepada Yesus pertanyaan yang sama, apakah yang Anda pikir Ia akan katakan kepada Anda? Renungkanlah implikasi jawaban Anda?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#6
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Rabu, 25 Mei 2016

"Apakah yang akan Kami Peroleh?"

Segera setelah peristiwa dengan seorang peminapin yang kaya, apakah yang terjadi?

"Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: `Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?'" (Matius 19:27).

Tidak ada dalam ayat ini mengatakan apa yang mendorong kepada pertanyaan ini, tetapi bisa juga sebagai tanggapan Iangsung kepada perginya orang kaya itu dari Yesus. Petrus sepertinya menyiratkan bahwa, berbeda dengan orang ini dan yang lainnya yang apakah menolak Yesus atau tinggal dengan Dia beberapa saat dan kemudian pergi, ia dan murid-murid yang lain telah meninggalkan segala sesuatu demi Dia. Mereka tetap setia kepada-Nya, sekalipun dengan pengorbanan diri yang besar. Jadi pertanyaannya adalah, apakah yang akan kami peroleh?

Dari sudut pandang kita sekarang ini, kita mungkin melihat pertanyaan ini sebagai indikasi lain bagaimana kerasnya hati dan bodohnya rohani murid-murid ini (dan, pada tingkat tertentu, hal itu benar). Di sisi lain, mengapakah tidak mengajukan pertanyaan seperti Petrus? Mengapakah dia tidak bertanya apa yang ia akan peroleh karena mengikut Yesus?

Bagaimanapun, hidup itu sulit, sekalipun bagi mereka yang memiliki hidup yang terbaik. Kita semua rentan terhadap trauma, kekecewaan, penderitaan karena keberadaan kita yang telah jatuh. Pada tahun 1800-an seorang intelektual Italia bernama Giacomo Leopardi memilis tentang keunggulan ketidakbahagiaan umat manusia, mengatakan,bahwa "selama manusia merasa hidup, ia juga merasa tidak puas dan merasa sakit."

Kehidupan seringkali adalah sebuah perjuangan, dan kebaikan di dunia ini tidak selalu tampil tanpa sesuatu yang buruk. Jadi pertanyaan Petrus sangat masuk akal. Karena hidup itu sulit, apakah untungnya bagi kita mengikut Yesus? Apakah yang harus kita harapkan dengan membuat komitmen seperti yang Yesus minta dari kita?

Bagaimanakah Yesus menanggapi pertanyaan ini? (Lihat Matius 19:28; 20:16).

Perhatikanlah, Yesus tidak menegur Petrus karena hal mementingkan diri atau seperti itu. la memberikan kepadanya pertama-tama jawaban yang sangat lugas dan kemudian sebuah perumpamaan mengenai pekerja-pekerja dan upah mereka. Meskipun dari abad ke abad telah terjadi banyak pembahasan mengenai makna perumpamaan ini, hal yang mendasar sudah jelas: Anda akan memperoleh dari Yesus apa yang la telah janjikan kepada kita.

Seandainya seseorang bertanya kepada Anda, "Apakah yang saya dapatkan dengan melayani Yesus?" bagaimanakah Anda menjawabnya?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#7
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Kamis, 26 Mei 2016

"Kami Dapat"

Untuk benar-benar memahami kisah hari ini mengenai Yakobus dan Yohanes (dan ibu mereka) dalam Matius 20:20-27, pertama-tama bacalah Lukas 9:51-56, Peristiwa ini terjadi ketika Yesus dan murid-murid-Nya pertama kali meninggalkan Yerusalem, hanya beberapa hari sebelum Yakobus dan Yohanes bermohon apakah mereka boleh duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus di dalam kerajaan itu.

Bacalah Matius 20:20-27. Apakah yang Lukas 9:51-56 katakan kepada kita mengenai seberapa siap Yakobus dan Yohanes untuk duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus di dalam kerajaan itu?

Yakobus dan Yohanes, Anak-anak Guruh, dengan jelas masih lebih meng-khawatirkan masa depan mereka sendiri daripada keselamatan orang-orang yang ada di sekitar mereka, bahkan setelah mereka diutus menginjil di wilayah sekitar. Dengan cara berbeda, kisah ini agak mirip dengan apa yang kita telah lihat kemarin, dengan pertanyaan Petrus mengenai apa yang mereka akan peroleh karena mengikut Yesus.

Perhatikanlah dengan saksama jawaban Yesus di sini. "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum, dan dibaptis dengan baptisan dengan apa Aku dibaptis?" (Matius 20:22, NKJV). Dengan kata lain, untuk digolongkan bersama kemuliaan Yesus yang akan datang artinya, pertama, harus masuk bersama penderitaan dan kematianNya, sesuatu yang mereka tidak harapkan dan tidak siap untuk itu. Nyatanya mereka langsung menjawab, "Kami dapat" (Matius 20:22) yang menunjukkan bahwa mereka tidak tahu hal apa yang la amarkan kepada mereka. Pada akhirnya, mereka pun belajar.

Suatu perbedaan menarik yang ditampilkan di sini, sesuatu yang perlu dipikirkan bagi diri kita sendiri. Sebagaimana yang kita lihat dalam pelajaran kemarin, kepada kita telah dijanjikan hal-hal yang luar biasa, bahkan "hidup yang kekal" (Matius 19:29), jika kita mengikut Yesus. Pada saat yang sama juga, Alkitab menjelaskan bahwa di dunia ini, mengikut Yesus terkait dengan pengorbanan, kadang-kadang dengan harga yang sangat mahal. Yesus sendiri kemudian berkata kepada Petrus bahwa ia akan mengalami mati syahid (lihat Yohanes 21:18, 19). Banyak orang percaya sepanjang sejarah, dan bahkan sekarang ini, telah membayar harga yang sangat mahal untuk mengikut Yesus. Sebenarnya, adalah bijaksana untuk bertanya pada diri sendiri barangkali ada sesuatu yang salah dalam kehidupan kita jika benar kita belum membayar harga yang mahal karena mengikut Tuhan. Berapa pun harganya, sungguh, itu cukup murah.

Berapakah biaya Anda karena mengikut Yesus? Pikirkanlah dengan saksama implikasi jawaban Anda.
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#8
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Jumat, 27 Mei 2016

PENDALAMAN

PENDALAMAN: Selama berab-abad beberapa orang telah memberikan pendapat mengenai apa yang sering disebut "hukum alam." Walaupun itu terjadi dalam berbagai bentuk dan rupa, idenya adalah kita dapat mernperoleh dari dunia alami prinsip-prinsip moral yang dapat membantu menuntun tindakan kita. Dengan pengertian, sebagai umat Kristen yang percaya bahwa alam adalah "Buku Allah yang Kedua," kita dapat menerima bahwa ada benarnya pendapat ini. Misalnya, lihatlah khotbah Paulus dalam Roma 1:18-32 mengenai apa yang orang harus pelajari mengenai Allah dari alam. Pada saat yang sama juga, kita tidak bisa melupakan bahwa dunia ini adalah dunia yang telah jatuh, dan kita memandangnya dengan pikiran yang telah jatuh dan rusak. Dengan demikian tidak heran bila kita dapat mengambil pelajaran moral yang salah dari alam. Sebagai contoh, salah satu pemikiran terbesar di zaman kuno, filsuf Yunani Aristoteles, memberikan pendapat mengenai perbudakan didasarkan pada pengertiannya akan alam. Bagi dia, alam menunjukkan dua kelompok manusia, yang satu "lebih rendah dari yang lainnya... seperti... hewan dengan manusia." Dengan demikian bagi mereka, "kehidupan yang taat sebagai budak ada manfaatnya." Ini hanyalah salah satu dari banyak contoh yang dapat kita peroleh mengenai bagaimana prinsip-prinsip, nilai-nilai, dan pendapatpendapat duniawi bertentangan dengan yang dari kerajaan Allah, sehingga-tidak peduli di mana pun kita lahir dan dibesarkan—kita perlu mempelajari Firman Tuhan yang darinya turun hukum moral, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip yang seharusnya mengatur kehidupan kita. Tidak ada yang, dari dirinya sendiri, dapat diandalkan.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Yesus meminta kita untuk mengampuni semua orang yang menyakiti kita. Ini termasuk keluarga kita sendiri. Pikirkanlah seseorang yang dekat dengan Anda yang telah menyakitimu. Meskipun tetap membekas, bagaimanakah Anda tiba pada saat di mana Anda dapat mengampuni?
  2. Di UKSS, diskusikan jawaban Anda untuk pertanyaan hari Minggu mengenai pertentangan antara nilai masyarakat Anda dan nilai-nilai Alkitab. Bagaimanakah kita sebagai orang Kristen menghadapi perbedaan-perbedaan ini?
  3. Pikirkanlah dengan lebih dalam gagasan menjadi besar karena mcmiliki kerendahan hati seorang anak. Apakah maknanya bagi kita sebagai orang Kristen?
  4. Sebagai Masehi Advent Hari Ketujuh kita percaya pada penurutan hukum Allah, Sepuluh Hukurn, dan memang demikian. Namun, apakah yang kisah seorang pemimpin yang kaya katakan kepada kita mengenai mengapa, bagaimanapun penting adanya penurutan lahiriah pada hukum Allah, itu saja belum cukup, dan bahwa Kekristenan yang sejati, walaupun mencakup penurutan kepada hukum Allah, cakupannya lebih daripada itu?
 

Top