Di benar kan

#1
"Kamutahu bahwa tidak seorang pun yang di benarkan oleh Karena melakukan hukum taurat,” “sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami di benarkan,” kata rasul itu. Artiperkataan “dibenarkan” adalah “di jadikan benar”. Inilah istilah yang tepat dalam Bahasa-bahasa yang tidak mengunakan istilah-istilah asing. Kata dalam Bahasa latin untuk kebenaran adalah Justitia. Menjadi benar dari kata “just” adalah menjadi tidak ber salah dari kata “Righteous”. Kemudian ditambah akihir “fy” dari Bahasa Latin, yang artinya “menjadikan”, maka kit memperoleh istilah yang lebih sederhana, “menjadikan benar”. Dalam suatu pemakayan yang khusus kita mengunakan istila “di benarkan” pada seseorang yang tidak melakukan kesalahan dalam suatu perkara yang di tuduhkan kepada nya. Tetapi sebenarnya orang yang demikian tidak memerlukan pembenaran, sebab iamemang sudah benar; perbuatan nya yang benar telah membenarkan nya. Ia dibenarkan dalam perbuatan nya. Tetapai Karena semua nya telah berdosa, tidak ada yang benar atau tanpa salah di hadapan Allah, semu perlu di benarkan atau dijadikan benar, dan hala ini telah dilakukan oleh Allah. Kini hukum Allah adalah kebenaran. Lihat Roma7:12; 9:30, 31; Masmur 119:172. Sebab itu Paulus tidak meremehkan hukum, walau pun ia menyatakan bahwa tidak ada orang yang dapat di benarkan oleh hukum, yaitu hukum yang ter tulis pada loh batu atau dalam sebua kitab. Begitu tinggi ia menghargai hukum itu, sehingga ia percaya kepada Kristus untuk kebenaran yang di tuntut oleh hukum, tetapi yang tidaka dapat di benarkan oleh hukum itu sendiri. “Sebab apa yang tidak mungkai dilakukan oleh hukum taurat Karena tidak berdaya oleh daging, telah di lakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang di kuasai dosa Karena dosa, Ia telah menjatukan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum turat di genapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapimenurut Roh.” Roma 8:3,4. Hukum taurat, yang mengatakan semua orang berdosa, tidak dapat membenarkan mereka kecualai kalua mau menagataakan bahawa dosa bukan lah dosa; tetapi itu bukannya pembenaran, mekainkan suatu kontra diksi (pertentangan) dalam hukum Turat itu sendir.