What's new

Khotbah di atas bukit-PELAJARAN 3, *9 - 15 April

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#1


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas dan menyimpulkan pelajaran Sekolah Sabat kita dalam Matius 5-7 serta apa yang Yesus katakan dalam Matius 13. Setelah kita mempelajari mengenai Yesus yang telah dibaptis, kemudian berpuasa 40 hari dipadang gurun, dicobai, membuat tanda-tanda dan mujizat; Yesus rupanya sedang menjalani sejarah bangsa Israel, menjadi Israel, dan di dalam Dia semua janji-janji perjanjian digenapi, Sebagaimana bangsa Israel yang keluar dari mesir “dibaptiskan” ketika melintasi Laut Merah, membawa mereka melewati padang gurun selama 40 tahun, penuh pencobaan, namun juga banyak mujizat dan tanda-tanda yang terjadi.—tergambar dalam kehidupan Yesus.

Pelajaran dari Matius 5-7 adalah merupakan prinsip-prinsip dasar kerajaan Allah. Hal ini mengatakan kepada kita seperti apa Allah itu, seperti apa pemerintahan kerajaan-Nya, dan mengatakan kepada kita untuk menjadi apa Allah memanggil kita, sebagai warga negara kerajaan-Nya.[1] Mari kita lihat sedikit saja dalam Matius 5:3-12 “ucapan bahagia” ada beberapa sifat dan karakter yang menggambarkan bagaimana umat-umat Allah, bagaimana Allah mengharapkan sifat yang seharusnya dimiliki oleh warga kerajaan-Nya,
Kemudian ditambahkan lagi dalam ayat 11-12—bagi saya pribadi ayat 11 dan 12 ini menjelaskan dengan lebih jauh lagi siapakah yang akan dianiyaya itu; mereka adalah yang membawa kebenaran—Kristus, “karena AKU”—tetapi bergembiralah karena upahmu besar di sorga, sebagaimana juga telah dianiyaya nabi-nabi yang sebelum kamu.[2]

Dalam ucapan bahagia, telah tergambar bagaimana karakter dari umat-umat Allah. Ini adalah prinsip-prinsip dasar kerajaan Allah.

Pelajaran Sekolah Sabat kita kali ini, seperti yang sudah saya sebutkan diatas, membahas mengenai khotbah diatas bukit dalam Matius 5-7 dan Matius 13[3] namun lebih fokusnya adalah pada ayat-ayat berikut ini: Matius 5:17-19, 20, Matius 5:48, Matius 13:44-52; mari kita bahas dan simpulkan!

Matius 5:17-19—memberikan satu penegasan, bahwa Yesus datang kedunia ini bukan menghapuskan hukum taurat, tapi untuk menggenapinya. Bahkan Paulus dalam Filipi 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia (Yesus) [4] telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Pertanyaanya, taat kepada apa? Tentu taat kepada Hukum! Memang benar kita tidak pernah diselamatkan oleh karena perbuatan kita seperti yang tersurat dalam Efesus 2:8-10 namun bukan berarti juga kita tidak perlu lagi hukum Allah ataupun Taurat ataupun 10 hukum Allah! Didalam Yakobus 2:10, 11, Roma 7:7 jelas memberikan keterangan hukum taurat itu memberikan keterangan mana yang dosa, mana yang kehendak Allah, mana yang jangan manusia lakukan! Bahkan Yakobus menambahkan bahwa siapa yang mengabaikan satu dari sepuluh hukum itu, bersalah terhadap keseluruhannya. Mengapa? Karena hukum Allah itu sendiri adalah mengambarkan karakter Allah! Tapi apakah kita diselamatkan oleh hukum Allah?? TIDAK! Kita diselamatkan oleh kasih karunia Allah, kita diselamatkan oleh Allah sendiri; dimana keselamatan itu dikenakan dan diberikan kepada kita melalui iman yang sungguh-sungguh didalam Yesus.

Sesudah itu, kita tetap butuh hukum Allah! Bukan untuk supaya selamat! Tetapi agar pengenalan kita kepada Allah lebih sempurna lagi—ingat hukum Allah adalah karakter Allah! Yohanes 17:3 mengatakan bahwa hidup kekal adalah mengenal Allah yang benar! Bagaimana bisa kenal Allah, bila tidak mengetahui hukum Allah dan menghidupkannya--sehingga dapat mengatakan Allah hidup didalam kita, padahal tidak menghidupan hukum Allah yang adalah karakter Allah sendiri. Ingat sekali lagi bukan supaya selamat! Namun karena telah selamat, didalam Yesus kita percaya dengan iman dan kita bertumbuh melalui pengenalan lebih jauh akan hukum-hukum Allah yang tercermin lewat perbuatan kita.[5]

Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Perhatikan Yesus tidak mengatakan, bahwa hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang Farisi salah total; sebaliknya Yesus ingin, hidup keagaaman kita “lebih benar” apa artinya lebih benar?? Sekolah Sabat kita mengatakan berikut: “Bentuk lahiriah belaka, terutama mereka yang adalah karya manusia, tidak memiliki kuasa untuk mengubah kehidupan atau mengubah tabiat. Satu-satunya iman yang benar adalah yang bekerja oleh kasih (Gal. 5:6); hanya itu yang membuat tindakan-tindakan lahiriah berkenan dalam pandangan Allah. [6] Tuhan menginginkan agar hidup keagamaan kita lebih benar! Bagi saya pribadi, ketika mempelajari sekolah Sabat, itu berarti bahwa kehidupan keagamaan kita harus lebih penuh rasa kasih! Bukan hanya dibibir saja; tapi tercermin dalam tindakan belas kasih kita, cinta kasih kita, keadilan bagi sesama manusia; bukan hanya pada persembahan dan perpuluhan kita saja, ataupun kehadiran dan ketepatan waktu kita beribadah di gereja—ini juga kita lakukan; dan yang lain jangan diabaikan. [7]

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."— Matius 5:48
Wadoh! Berat ini ayat! Gimana caranya bisa sempurna seperti Bapa disorga?? Mungkin ini yang terlintas dipikiran kita ketika membaca ayat diatas. Perlu diingat ide seperti ini bukanlah muncul pertama kali di Kitab Matius, namun dalam kitab perjanjian lama Imamat 19:2—ide seperti ini telah ada. Konteks dari Matius 5:48, perlu juga dilihat dan dikaji sesuai dengan ayat-ayat sebelumnya; khususnya Matius 5:43-47 itu adalah dalam konteks yang berfokus kepada mengasihi sesama manusia. Allah tidak mungkin, meminta apa yang tidak dapat dilakukan oleh manusia sendiri! ingatlah Allah pasti akan membantu menyempurnakan kehidupan kita! Saya ingat, ilustrasi yang diberikan oleh dosen saya ketika membahas ayat ini; kira-kira dosen itu mengatakan demikian:

“Apakah seorang bayi laki-laki normal yang baru lahir itu sempurna?? Ia katakan Ya! Bayi itu sempurna! malah menjadi tidak sempurna bila bayi laki-laki yang baru lahir itu sudah memiliki kumis ataupun bulu ketiak ataupun bulu disekitar alat kemaluannya; ketika ia baru dilahirkan. Tetapi sebaliknya bila pria yang sudah berusia 30an tidak memiliki kumis, bulu ketiak ataupun bulu disekitar alat kemaluannya—maka ia kurang normal ataupun tidak normal”
Artinya kesempurnaan manusia itu adalah sesuai dengan tarafnya! Dalam hal ini, konteks Matius 5:48 adalah dalam hal mengasihi sesama manusia, kita diminta untuk sempurna sama seperti Bapa di Sorga; artinya seberapa jauh Allah akan bekerja didalam diri kita untuk mengasihi sesama manusia! Bahkan mengasihi mereka yang membenci kita! Bukan membalas kejahatan dengan kejahatan ataupun pembunuhan dengan pembunuhan—balaslah dengan kasih; berdoa agar Allah memampukan kita untuk memiliki kasih seperti itu; ketika kita ada didalam fase kehidupan yang sangat berat untuk mengampuni—kita dimampukan untuk mengampuni dan mengasihi sesama manusia.

Matius 13 sendiri terdiri dari beberapa perumpamaan yaitu :

  1. Tentang seorang penabur (ay. 1-23)
  2. Lalang diantara gandum (ay. 24-30)
  3. Biji sesawi dan ragi (ay. 31-35)
  4. Penjelasan tentang lalang diantara gandum (ay. 36-43)
  5. Tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga (ay. 44-46)
  6. Tentang pukat (ay. 47-52)
  7. Dan kisah Yesus ditolak di Nazaret (ay. 53-58)
Pelajaran Sekolah Sabat kita berfokus pada perumpamaan tentang harta terpendam, mutiara yang berharga serta tentang pukat; yang paling menonjol pada kedua perumpamaan diatas adalah mereka meninggalkan segala sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang “baru”—tentunya yang dirasakan lebih berharga!

Kita tidak dapat meninggalkan segala sesuatu untuk Tuhan ataupun bahkan mengutamakan firman Tuhan. Bila kita tidak merasakan bahwa firman Tuhan ataupun keselamatan itu sendiri sangat berharga. Hanya ketika kita merasa firman Tuhan itu sangat berharga melebihi apapun; dan keselamatan itu yang paling penting maka barulah kita dapat meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Tuhan. Artinya, tidak akan bisa kita luangkan waktu kita yang berharga untuk belajar Sekolah Sabat, bila kita tidak merasa bahwa Sekolah Sabat itu berharga atau lebih berharga dari waktu kita bekerja! Tidak akan dapat kita menyucikan Saba; bila kita merasa setiap jam, menit, bahkan detik dihari SABAT itu lebih berharga bila digunakan untuk bekerja daripada pergi seharian ke gereja! Tidak akan ada dikamus kita mengenai binatang haram dan halal—bila kita tidak menghargai perkataan firman Tuhan dalam Imamat 11.—ataupun menggangap itu adalah hal yang penting dan berhubungan dengan keselamatan kita! Ingat bukan supaya selamat; tetapi karena telah selamat, maka saya menjaga pola makan saya!—termasuk didalamnya makanan yang halal yang akan saya nikmati.
Tuhan memberkati


[1] Pelajaran Sekolah Sabat, Buku Matius, hari minggu 10 April 2016, hlm. 30
[2] Ini adalah tambahan dari perangkum Sekolah Sabat.
[3] Tentu Matius 13 bukanlah termasuk khotbah diatas bukit. Ini dikhotbahkan ataupun diajarkan oleh Yesus diatas perahu; sedangkan orang banyak yang mendengarkan berdiri di pantai (Matius 13:1-2)
[4] Ditambahkan (penjelasan) oleh perangkum Sekolah Sabat
[5] Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
[6] Pelajaran Sekolah Sabat, hari Selasa 12 April 2016, hlm. 32—Kitab Matius
[7] Bandingkan dengan Mikha 6:6-8
 

Attachments

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#2
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Sabat Petang, 9 April 2016

BACALAH UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: MATIUS 5-7; ROMA 7:7; KEJADIAN 15:6; MIKHA 6:6-8; LUKAS 6:36; MATIUS 13:44-52; ROMA 8:5-10.

Ayat Hafalan: "Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka" (Matins 7:28-29).

Dalam kitab Keluaran, kita melihat Allah menuntun anak-anak Israel keluar dari Mesir, "membaptiskan" mereka di Laut Merah, membawa mereka melewati padang gurun selama 40 tahun, membuat tanda-tanda dan mukjizat, dan bertemu dengan mereka secara pribadi di puncak gunung dimana Dia memberikan kepada mereka hukum-Nya.

Dalam kitab Matius, kita melihat Yesus keluar dari Mesir, dibaptis di Sungai Yordan, pergi ke padang gurun selama 40 hari, membuat tanda-tanda dan mukjizat, dan bertemu secara pribadi dengan bangsa Israel di puncak gunung di mana Dia meneguhkan hukum yang sama. Yesus menjalani sejarah bangsa Israel, menjadi Israel, dan di dalam Dia semua janji-janji perjanjian digenapi.

Khotbah di Atas Bukit adalah khotbah yang paling hebat yang pernah di-khotbahkan. Kata-kata-Nya telah sangat memengaruhi bukan saja pendengar langsung tetapi semua orang yang mendengar pekabaran yang mengubah kehi¬dupan selama berabad-abad dan bahkan sampai ke zaman kita.

Namun, kita seharusnya tidak hanya mendengarkan khotbah ini; kita juga harus menerapkannya. Pekan ini, seiring dengan mempelajari apa yang Yesus katakan dalam Khotbah di Atas Bukit (Matins 5-7), kita akan mempelajari apa yang Yesus katakan dalam Matius 13 mengenai menerapkan firman-Nya da¬lam kehidupan kita.

*Pelajarilah pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat, 16 April.
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#3
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Minggu, 10 April 2016

Prinsip dan Standar

Bacalah sekilas Khotbah di Atas Bukit dalam Matins 5-7. Buatlah ringkasan pada garis di bawah ini apa yang paling terkesan dalam pikiran Anda mengenai khotbah ini, mengenai apa yang dikatakannya kepada Anda.

_____________________________________________________________________________________



"Mungkin dalam sejarah manusia tidak ada khotbah agama yang telah menarik perhatian selain yang telah diberikan kepada Khotbah di Atas Bukit. Para filsuf dan aktivis dari berbagai perspektif bukan Kristen yang menolak menyembah Yesus pun tetap mengagumi etika-Nya. Di abad kedua puluh, khot¬bahnya Mohandas Gandhi yang paling terkenal di kalangan penganut bukan Kristen."—Craig L. Blomberg, The New American Commentary: Matthew (Nashville: B&H Publishing Group, 1992), jld. 22, him. 93, 94.

Khotbah ini telah dilihat dari berbagai cara. Beberapa orang melihatnya sebagai standar moral yang tinggi yang tidak mungkin yang mengarahkan kita tersungkur dan mendorong kita untuk menuntut kebenaran Yesus sebagai harapan keselamatan kita satu-satunya karena kita semua telah jatuh terlalu jauh terpisah dari standar Ilahi ke maim yang Tuhan memanggil kita sebagaimana dinyatakan dalam Khotbah di Atas Bukit. Orang lain melihatnya sebagai sebuah penjelasan mengenai etika bermasyarakat, seruan untuk tidak terlibat tindak kekerasan. Beberapa lagi melihat di dalamnya Injil sosial, suatu seruan untuk membawa kerajaan Allah ke burnt dengan usaha manusia.

Artinya, barangkali setiap orang membawa sesuatu dari dirinya kepada khotbah ini karena khotbah ini dengan begitu kuat menyentuh kita dalam bagian-bagian penting kehidupan kita; jadi kita semua menyambutnya dengan cara kita sendiri.

Ellen G. White menulis: "Di dalam Khotbah di Atas Bukit la berusaha ' mengubah haluan pekerjaan yang telah dilakukan pendidikan palsu, dan mem¬berikan kepada pendengar-Nya pengertian yang benar tentang kerajaan-Nya dan sifat-Nya yang benar.... Kebenaran yang diajarkan-Nya tidak kurang pen¬ting bagi kita daripada kepada orang banyak yang mengikuti Dia. Tidak boleh lebih sedikit dari mereka kita perlu mempelajari dasar-dasar prinsip kerajaan Allah."—Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 319

Dengan demikian, apa pun juga makna yang kita berikan, Khotbah di Atas Bukit memberikan kepada kita prinsip-prinsip dasar kerajaan Allah. Hal ini mengatakan kepada kita seperti apa Allah itu, seperti apa pemerintah kerajaan¬Nya, dan mengatakan kepada kita untuk menjadi apa Allah memanggil kita, sebagai warga negara Kerajaan-Nya. Sebuah panggilan yang radikal dari prinsip-prinsip dan standar-standar kerajaan dunia yang segera akan berlalu kepada prinsip-prinsip dan standar-standar kerajaan yang akan ada selama-lamanya (lihat Daniel 7:27).
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#4
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Senin, 11 April 2016

Khotbah Itu Dibandingkan Dengan Hukum

Beberapa orang Kristen memandang Khotbah di Atas Bukit sebagai "hukum Kristus" yang baru, sesuatu yang rnenggantikan "Hukum Allah." Mereka berpendapat bahwa sistem legalisme sekarang telah digantikan dengan sistem kasih karunia, atau hukum Yesus itu berbeda dengan Hukum Allah sendiri. Pandangan ini adalah suatu kesalahpahaman akan Khotbah di Atas Bukit.



Apakah yang ayat-ayat berikut ini katakan mengenai hukum yang se-cara tidak Iangsung mengenai pendapat bahwa, sepertinya, Hukum Tau- rat (yaitu, Sepuluh Hukum), telah digantikan oleh Khotbah di Atas Bu- kit? (Mathis 5:17-19, 21, 22, 27, 28; lihat juga Yakobus 2:10, 11; Roma 7:7).

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Craig S. Keener menulis: "Kebanyakan orang Yahudi memahami hukum itu dalam konteks kasih karunia...; mengingat tuntutan Yesus akan kasih karunia yang lebih besar..., tidak diragukan la bertujuan, tuntutan-tuntutan kerajaan itu dalam terang kasih karunia (bandingkanlah Matius 6:12; Lukas 11:4; Markus 11:25; Mathis 6:14, 15; Markus 10:15). Dalam kisah-kisah Injil Yesus merangkul mereka yang merendahkan dirinya, mengakui hak Allah untuk mengatur, walaupun dalam praktik mereka belum mencapai tujuan kesempurnaan akhlak (5:58). Tetapi kerajaan kasih karunia yang diberitakan Yesus bukanlah kasih karunia tanpa usaha ala kebanyakan Kekristenan Barat; di dalam Injil kabar kerajaan itu mengubahkan mereka yang menerimanya dengan rendah hati, sama dengan meremukkan mereka yang sombong, yang puas diri secara agama dan social."—The Gospel of Matthew: A Socio-Rhetorical Commentary (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2009), hlm. 161, 162.

Bacalah Kejadian 15:6. Bagaimanakah ayat ini menolong kita mema¬hami bahwa keselamatan itu selalu oleh iman?

_____________________________________________________________________________________

Iman kepada Kristus bukanlah iman yang baru; itu adalah iman yang sama dari Kejatuhan dan sesudahnya. Khotbah di Atas Bukit bukanlah keselamatan oleh kasih karunia mcnggantikan keselamatan oleh usaha. Hal itu tetaplah keselamatan oleh kasih karunia. Anak-Anak Israel diselamatkan oleh kasih karunia di Laut Merah sebelum mereka dituntut untuk menurut di Sinai (lihat Keluaran 20:2).

Apakah yang pengalamanmu sendiri dengan Tuhan dan hukum-Nya hendak ajarkan kepadamu mengenai mengapa keselamatan itu selalu ha-ruslah oleh iman dan bukan oleh hukum?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#5
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Selasa, 12 April 2016

Keagamaan Ahli Taurat dan Orang Farisi



Bacalah Matins 5:20. Apakah yang Yesus maksudkan ketika Ia berkata bahwa jika hidup keagamaanmu "tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi," kita tidak akan masuk kerajaan surga?

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Walaupun keselamatan selamanya oleh iman, dan walaupun paham Yahudi, sebagaimana yang dipraktikkan, tetaplah suatu sistem kasih karunia, legalisme telah menyusup, sebagaimana itu dapat masuk ke dalam setiap agama yang percaya sungguh akan penurutan, seperti halnya penganut Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Pada zaman Yesus, banyak orang (tetapi tidak semua) pemimpin-pemimpin agama dalam hal sejenis "keagamaan ortodoks yang keras... tiadanya perasaan berdosa, kelemah lembutan atau kasih" yang meninggalkan mereka "tidak berkuasa untuk memelihara dunia dari kecurangan"—Ellen G. White, Khotbah di Atas Bukit, hlm. 64.

Bentuk lahiriah belaka, terutama mereka yang adalah karya manusia, tidak merniliki kuasa untuk mengubah kehidupan atau mengubah tabiat. Satu-satunya iman yang benar adalah yang bekerja oleh kasih (Gal. 5:6); hanya itu yang membuat tindakan-tindakan lahiriah berkenan dalam pandangan Allah.

Bacalah Mikha 6:6-8. Dalam cara Apakah hal ini menjadi sebuah ringkasan Khotbah di Atas Bukit?

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Di zaman Perjanjian Lama sekalipun, korban-korban itu bukanlah akhir tetapi suatu sarana menuju akhir, dan akhirnya adalah kehidupan di mana pengikut-pengikut Allah mencerminkan kasih dan tabiat Allah, sesuatu yang hanya dapat dilakukan melalui penyerahan mutlak kepada Allah dan menyadari ketergantungan kita hanya pada kasih karunia-Nya yang menyelamatkan. Meskipun semua penampilan lahiriah mereka saleh dan beriman, banyak dari ahli-ahli taurat dan orang Farisi tentunya bukanlah teladan dalam bagaimana seharusnya pengikut Tuhan itu hidup.


Meskipun Anda berkeyakinan kuat pada keselamatan oleh iman saja, Dan bahwa hanya kebenaran Yesus saja dapat menyelamatkan Anda, bagaimanakah Anda bisa yakin agar tidak ada bentuk-bentuk legalisme yang kecil sekalipun yang menyusup?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#6
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Rabu, 13 April 2016

Prinsip-prinsip Kerajaan Allah



Barangkali ajaran Yesus yang paling radikal terdapat dalam Matius 5:48. Bacalah ayat itu. Bagaimanakah kita, apalagi sebagai orang berdosa, harus menjadi demikian?

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________


Dari semua ajaran. dalam Khotbah di Atas Bukit, hal inilah yang paling hebat, yang paling "ekstrem." Menjadi sempurna sebagaimana "Bapamu yang di surga"? Apakah maksudnya?

Bagian yang penting dalam memahami ayat ini terdapat pada kata pertama ayat itu "karena itu." Yang menyiratkan sebuah kesimpulan, suatu kesimpulan dari apa yang disebutkan sebelumnya. Apakah yang disebutkan sebelumnya?

Bacalah Matius 5:43-47. Bagaimanakah ayat-ayat ini, kemudian disimpulkan dengan Matius 5:48, menolong kita untuk memahami lebih baik apa yang Yesus maksudkan dalam Matius 5:48? Lihat juga Lukas 6:36.

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________


Ide seperti ini bukan yang pertama kali muncul dalam Alkitab. Kembali ke kitab Imamat (19:2), Tuhan berkata kepada umat-Nya, "Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus." Dalam Kitab Lukas (6:36), Yesus berkata: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

Konteks seluruhnya di sini, dalam Matius 5:43-48, bukanlah mengenai kesesuaian lahiriah pada aturan dan standar, walaupun hal itu penting. Sebaliknya, secara keseluruhan bagian ini berfokus pada mengasihi orang, bukan hanya kepada mereka yang pantas dikasihi oleh siapa saja tetapi kepada mereka yang, dengan standar dunia, umumnya kita tidak kasihi (sekali lagi, ini adalah tentang standar kerajaan Allah, bukan kerajaannya manusia).

Yang penting untuk diingat di sini adalah bahwa Allah tidak meminta kita sesuatu yang Dia tidak bisa selesaikan di dalam kita. Jika diserahkan kepada kita sendiri, jika dikuasai oleh hati kita yang berdosa dan cinta diri, siapakah yang akan mengasihi musuh mereka? Bukan demikian cara kerjanya, tetapi bukankah kita sekarang adalah warga kerajaan yang lain? Kita memiliki janji bahwa jika kita menyerahkan diri kita kepada Allah, maka "la, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." (Filipi 1:6), dan apakah pekerjaan yang lebih besar yang Allah dapat buat di dalam kita selain untuk membuat kita, dalam lingkungan kita sendiri, mengasihi seperti Dia mengasihi kita?

Betapa akan berbeda jadinya hidupmu, sekarang, apakah Anda sudi mengasihi musuh-musuhmu?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#7
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Kamis, 14 April 2016

Menerima Firman Kerajaan Allah

Di atas bukit bukanlah satu-satunya tempat Yesus berkhotbah. la mengkhotbahkan pekabaran kerajaan Allah yang sama di seluruh Israel. Matius 13 mencatat Yesus mengajar dari sebuah perahu, "sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai" (Matius 13:2). Kemudian Yesus mengatakan kepada orang banyak perumpamaan yang dimaksudkan untuk menekankan pentingnya bukan hanya mendengarkan firman-Nya tetapi menerapkannya.

Bacalah Matius 13:44-52. Apakah yang dikatakan di sini dalam perumpamaan ini yang sangat penting terutama bagi kita dalam memahami bagaimana menerapkan dalam kehidupan kita kebenaran-kebenaran yang terungkap dalam Khotbah di Atas Bukit?

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Dua hal yang menonjol dalam dua cerita pertama. Di dalam kedua cerita ini, terdapat ide perpisahan, meninggalkan apa yang menjadi kepunyaan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang baru, baik itu harta di ladang atau mutiara. Hal penting lainnya adalah nilai yang besar yang diberikan oleh setiap orang pada apa yang dia telah temukan. Pada kedua situasi, mereka pergi dan menjual semua yang mereka miliki untuk mendapatkannya. Walaupun kita tidak dapat membeli keselamatan (Yesaya 55:1, 2), tujuan dari perumpamaan ini jelas: Tidak ada yang kita miliki di kerajaan ini, dunia ini, yang sama nilainya dengan kehilangan kerajaan yang akan datang.

Dengan demikian, untuk menerapkan dalam kehidupan kita apa yang Tuhan minta dari kita, kita perlu membuat pilihan untuk memisahkan diri dari semua hal-hal dunia, keinginan daging, dan membiarkan Roh Allah memenuhi kita (lihat Roma 8:5-10). Hal ini mungkin tidaklah mudah; akan membutuhkan kematian bagi diri sendiri dan mengangkat salib seseorang. Tetapi bila selalu ada di hadapan kita harga dan nilai akan apa yang dijanjikan, kita akan miliki semua motivasi yang dibutuhkan untuk membuat pilihan yang harus dibuat.

Bacalah perumpamaan yang terakhir (Matius 13:47-50). Perumpamaan ini juga, berbicara mengenai perpisahan. Dalam cara bagaimana perpisahan yang terlihat dalam kedua perumpamaan pertama menolong kita memahami apa yang terjadi dalam perumpamaan ketiga?

_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#8
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Jumat, 15 April 2016

Pendalaman

Bacalah pasal "Khotbah di Atas Bukit,"—Ellen G. White, Alfa dan Omega," j id. 5, hlin. 217-335, dan buku Khotbah di Atas Bukit.

Dalam perumpamaan Matius 13:44-46, seseorang menemukan sesuatu yang sangat berharga. Melihat konteksnya, terutama setelah Yesus mengatakan perumpamaan yang ketiga (Matius 13:47-50), apakah kebenaran yang mereka temukan, kebenaran yang menuntun kepada hidup kekal, yang bertentangan dengan kebinasaan kekal "dalam dapur api." Hal ini penting karena kita hidup pada zaman di mana pemikiran mengenai "kebenaran" itu sendiri, sudah baik sekali jika dianggap kuno atau yang terburuk, berhahaya. Dan, disayangkan, inilah pendapat yang salah yang telah diterima oleh beberapa orang Kristen. Meskipun demikian, pekabaran dari perumpamaan ini bukan saja bahwa kebenaran itu ada tetapi bahwa kebenaran akan membuat perbedaan selama-lamanya dalam setiap kehidupan manusia. Seharusnya hal ini tidaklah mengejutkan. Alkitab didasarkan pada kebenaran mutlak. Akhirnya, Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6). Jika itu tidak menyatakan mengenai kebenaran mutlak, lalu apa? Tentunya, jika saja seorang dengan begitu banyak pengetahuan akan kebenaran seperti Paulus mengatakan bahwa "sebab pengetahuan kita tidak lengkap" (1 Korintus 13:9), pastilah ada banyak hal yang belum kita ketahui. Namun pernyataannya bahwa pengetahuan kita "tidak lengkap" menunjukkan bahwa masih ada banyak pengetahuan untuk kita ketahui, kebenaran yang benar-benar akan membuat perbedaan baik untuk kehidupan kekal maupun kematian kekal. Kehidupan kekal atau kematian kekal? Tidak ada lagi yang Iebih mutlak dari hal ini.


Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan :

  1. Akan seperti apakah kehidupan di dunia ketika semua orang mengikuti prinsip-prinsip yang terdapat dalam Khotbah di Atas Bukit?
  2. Yesus menceritakan perumpamaan tukang bangunan yang bijaksana dan yang bodoh (Mud Matins 7:24-27) yang kelihatan dari tepi Danau Galilea. Pada musim kemarau, perbedaan penampilan batu dan pasir di tepi pantai hampir tidak kelihatan, dan tukang bangunan dapat membangun rumahnya di atas pasir, yang pikirnya itu batu. Ketika hujan datang, fondasi pasir itu kelihatan, dan rumah itu rubuh. Yesus membandingkan mereka yang mendengar ucapan-Nya tetapi tidak melakukannya dengan dasar dari pasir. Bagaimanakah badai kehidupan kita menyatakan apakah dasar kita dari batu atau pasir? Bagaimanakali kita dapat memiliki dasar yang akan membuat kita tetap stabil dan teguh di tengah-tengah pencobaan yang paling buruk sekalipun?
 

Top