What's new

PERISTIWA-PERISTIWA AKHIR ZAMAN-PELAJARAN 11, *4 - 10 Juni 2016

Veronika

Moderator
Staff member
#1

Sesuai dengan judul pelajaran Sekolah Sabat kita “PERISTIWA-PERISTIWA AKHIR ZAMAN.” Maka pembahasan Sekolah Sabat tentunya akan memberikan gambaran yang sangat penting didalam menghadapi peristiwa akhir zaman yang khususnya berfokus pada Kitab Matius 24. Bagi umat Advent pelajaran mengenai peristiwa akhir zaman bukanlah sesuatu yang baru lagi. Matius 24 sendiri telah menjadi fasal favorit bagi beberapa pendeta untuk menjelaskan keadaan akhir zaman. Namun perlu diingat bahwa Matius 24 adalah gambaran yang Yesus telah berikan bukan hanya saja untuk peristiwa-peristiwa besar sebelum kedatagan-Nya yang ke dua kali namun juga adalah gambaran mengenai Yerusalem yang nantinya akan dihancurkan pada tahun 70 M.[1]

Ketika membahas Matius 24 maka yang akan mengisi setiap lembaran kejadian mendekati kedatangan Yesus yang kedua kali adalah deru perang, penyesatan, bencana alam, gereja menghadapi penganiyayan, mesias-mesias palsu, dan bahkan saudara-saudara palsu. Hal yang paling positif digambarkan dalam Matius 24 hanyalah janji bahwa “Injil kerajaan ini akan diberitakan diseluruh dunia” (Matius 24:14) [2] . Kemudian didalam penggenapannya atas Yerusalem yang diserang pada tahun 70 M. Kitab Lukas mengatakan bahwa ketika hal ini akan terjadi, Yesus telah mengamarkan bagi murid-murid-Nya untuk dapat melarikan diri sebelum kebinasan itu dimulai--Lukas 21:20-22. Sekolah Sabat kita menuliskan kisah kehancuran Yerusalem itu sebagai berikut: “ketika orang-orang Kristen di Yerusalem melihat hal ini terjadi, mereka melarikan diri dari kota itu sebagaimana yang Yesus perintahkan, sedangkan sebagian besar orang Yahudi tertinggal dan binasa. Diperkirakan lebih dari satu juta orang Yahudi tewas selama pengepungan Yerusalem, dengan 97.000 orang lebih ditawan. “Namun,… semua orang Kristen telah melarikan diri, dan disebutkan bahwa tak seorangpun dari mereka yang kehilangan nyawanya..” [3]

Bagi saya pribadi adalah bukan masalah mati atau tidak mati. Namun demikian yang paling penting adalah amaran Yesus untuk “lari.” Pertanyaannya adalah siapa yang bisa “lari”?? Bagi saya pribadi, yang bisa lari adalah mereka yang tau dan bersedia untuk hari itu!Matius 24:23-26 memberikan pengetahun mengenai hari kedatangan Yesus Kristus yang ke-2 kali; dipenuhi oleh kepalsuan—mujizat palsu, mesias palsu bahkan nabi palsu yang sekiranya mungkin menyesatkan orang-orang pilihan juga! Bagaimana kita bisa “lari” dari kepalsuan ini? agar tidak terjerat dalam penipuan besar itu? Matius 24:36, 42 mengatakan bahwa yang hanya dapat kita lakukan saat ini adalah “berjaga-jaga” sebab kita tidak tau akan masa kedataganan Tuhan yang kedua kali. Sebagaimana Matius 24:45-51menceritakan perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat. Kedua hamba itu telah diberi kepercayaan, namun karena tuannya belum juga datang! Hamba yang jahat mulai melupakan tanggung jawabnya, kepercayaan yang telah diberikan oleh Tuannya mulai disalah gunakan dengan memukuli hamba yang lain, berpesta pora, mabuk—dan ketika Tuannya datang, hamba yang jahat ini akan dibinasakan!

Percayalah bahwa janji kedatangan Tuhan adalah iya dan pasti! 1 Tes. 4:16, Wahyu 1:7,Wahyu 19:16, 1 Kor. 15:25 dan banyak lagi ayat yang lain dalam Alkitab telah menyatakan bahwa kedatangan Yesus yang kedua kali adalah bersifat pribadi dan harifiah artinya bukan hanya sekedar isapan jempol ataupun metafora saja. [4] Semua mata akan memandang, memang Yesus Kristus sendiri yang akan datang secara pribadi turun dari sorga—bukan imajinasi! Tiupan sangkakala yang akan mengiringi kedatagan-Nya sebagai Raja alam semesta yang telah menang dan membawa kemenangan untuk umat-umat-Nya yang “berjaga-jaga” dan bersedia untuk kedatangan-Nya.—kita perlu mengimani ini semua! Sebagaimana kedatangan Yesus yang pertama telah dinubuatkan dan digenapi! Saya percaya kedatangan-Nya yang kedua juga pasti akan digenapi.

Kita harus berjaga-jaga. Supaya tidak terulang kesalahan yang sama; seperti yang telah dilakukan oleh beberapa pemimpin-pemimpin buta pada waktu yang lalu. Yesus yang telah menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir, dimana para pemimpin-pemimpin dan tua-tua itu berjanji untuk tetap hidup selama-lamanya dalam perjanjian yang kudus dengan-Nya (Keluaran 19:5, 6; Keluaran 24:9-11). Namun Matius 23:37-38 mencatat yang terjadi adalah sebaliknya:

"Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi
Gantinya taat terhadap perjanjian-Nya. Nabi-nabi yang adalah pesuruh-pesuruh Allah dibunuh, panggilan kasih karunia keselamatan—ditolak! Maka yang terjadi kemudian adalah “Yerusalem ditinggalkan” “sunyi” Apa penyebab utamanya? Karena tidak setia dan tulus kepada perjanjian Allah! Apakah perjanjian-Nya?? Untuk menjelaskan perjanjian Allah saya senang mengutip ayat berikut ini:

Matius 23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
Kehidupan keagaaman telah dilakukan, doktrin-doktrin telah dikerjakan! Namun keadilan, kasih dan kesetiaan terhadap sesama manusia juga tidak boleh diabaikan. Yesus mengatakan yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Bahkan yang lebih parahnya; Yesus mengatakan yang terpenting itu yang telah terabaikan yaitu kasih, keadilan dan kesetiaan. Kita perlu beragama, kita perlu mengikuti doktrin ajaran gereja kita. Namun biarlah itu kita lakukan dari hati kita yang paling dalam. Dengan kasih kepada Allah, setia kepada Tuhan karena Ia sudah lebih dahulu mengasihi dan telah menunjukkan kesetiaan-Nya lebih dulu bagi umat manusia. Serta yang kedua yang sama pentingnya, menunjukkan hal yang sama yaitu kasih, keadilan dan kesetiaan kepada sesama kita manusia didalam Tuhan. [5]

Itulah cara kita berjaga-jaga didalam menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali. Kita tidak perlu takut menghadapi peristiwa-peristiwa mendekati akhir zaman; asal kita telah sungguh-sungguh berserah dan berjaga-jaga didalam Tuhan. Upahmu besar disorga.
Tuhan memberkati

[1] Sesuai dengan sejarah dan pelajaran Sekolah Sabat
[2] Pelajaran Sekolah Sabat, Kitab Matius, hari senin 6 juni 2016, hlm. 127
[3] Pelajaran Sekolah Sabat, Kitab Matius, hari selasa 7 Juni 2016, hlm. 128
[4] Rabu 8 Juni 2016, hlm. 129
[5] Matius 22:37-40
 

Attachments

Veronika

Moderator
Staff member
#2
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Sabtu, 3 Juni 2016

SABAT PETANG

PERISTIWA-PERISTIWA AKHIR ZAMAN

Ayat Hafalan: "Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndah-kan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Matius 23:12).

Kedatangan Yesus yang Kedua adalah puncak iman Kristiani. Kedatangan Yesus yang pertama dan kematian-Nya di salib adalah pendahuluan yang penting bagi Kedatangan Kedua. Kedatangan Yesus yang Kedua tidak akan terjadi tanpa yang Pertama, dan yang Pertama menjadi sia-sia tanpa yang Kedua. Keduanya terkait dan tak terpisahkan, jika bukan dalam waktu namun dalam tujuan, yaitu penebusan manusia dan berakhirnya pertentangan besar itu. Kedatangan pertama sudah lewat dan sudah terjadi, sempurna dan tuntas; kita sekarang merindukan dan menantikan yang Kedua.

Pekan ini kita akan melihat apa yang dicatat dalam Matius 23, dengan seruan terakhir Yesus kepada beberapa pemimpin Yahudi untuk bertobat dan menerima Dia, harapan keselamatan mereka satu-satunya. Kemudian, dalam Matius 24, Yesus menanggapi pertanyaan mengenai peristiwa apa yang akan terungkap sebelum kedatangan-Nya yang kedua. Di sini Yesus menyajikan sebuah gambaran yang lebih serius, menghubungkan kehancuran Yerusalem dengan apa yang akan mendahului kedatangan-Nya.

Namun demikian, tidak peduli sesulit apa pun itu, misalnya perang, kelaparan, pengkhianatan, kita ditinggalkan dengan janji "Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya" (Matius 24:30). Dengan kata lain, meskipun susah payah dan duka cita, kita masing-masing memiliki alasan untuk bersukacita.
 

Veronika

Moderator
Staff member
#3
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Minggu, 5 Juni 2016

PEMIMPIN-PEMIMPIN BUTA

Yesus Sendirilah yang telah menuntun bangsa Israel ke Yerusalem, dengan tangan yang kuat dan lengan yang terentang. Pada sayap elang Dia membawa mereka keluar dari Mesir dan tnembawa mereka kepada diri-Nya sendiri. "Kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi: Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus" (Keluaran 19:5, 6).

Dalam arti, Yesus telah mengajukan kepada Israel di atas gunung yang indah yang disebut Sinai. Keluaran 24 berkata bahwa para pemimpin dan tua-tua "naik dan mereka melihat Allah Israel berdiri di atas sesuatu seperti lantai dari batu nilam, dan biru seperti langit yang cerah. Para pemimpin Israel itu sudah melihat Allah... Sesudah itu mereka makan dan minum" (Keluaran 24:9-11. NIV). Kristus menawarkan cawan perjanjian-Nya kepada Israel, seperti seorang menawarkan cawan kepada seorang wanita yang ingin dinikahinya dan memberikan masa depan yang indah. Israel telah menerima cawan itu dan berkata, Ya, kami ingin hidup selamanya denganinu di tanah perjanjian itu.

Dengan memikirkan latar belakang ini, bacalah Matius 23. Apakah yang Yesus katakan kepada para pemimpin Israel? Amaran apakah yang sedang diberikan? Lebih penting lagi, pelajaran apakah yang dapat kita tarik bagi kita sendiri sehubungan dengan hal-hal yang secara khusus Dia telah mengecam mereka? Bagaimanakah kita dapat memastikan bahwa kita tidak turut dalam kesalahan yang sama?



Matius 23 adalah permohonan terbesar Yesus yang terakhir untuk rukun kembali dengan yang dikasihi-Nya. Tetapi yang dikasihi-Nya meninggalkanNya. la menerima keputusan bangsa itu, dan untuk terakhir kali Dia berjalan keluar dari rumah mereka—Bait Suci-Nya. "Lihatlah," Ia berkata, "rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi" (Matius 23:38). Ketika Yesus meninggalkan Bait Suci itu, tempat itu menjadi sunyi, hampa, terlantar, seperti padang gurun dari mana Tuhan telah terlebih dahulu menyelamatkan mereka.

Sebuah transisi besar dalam sejarah keselamatan akan berlangsung, dan para pemimpin ini, dan mereka yang akan dituntun kepada penipuan, akan kehiIangannya. Sementara itu, banyak orang lain, orang-orang Yahudi dan segera sesudahnya bangsa-bangsa lain, terbuka untuk dipimpin Roh Kudus, akan melanjutkan pekerjaan besar dan panggilan Israel. Mereka akan menjadi keturunan Abraham yang sesungguhnya "dan berhak menerima janji Allah" (Galatia 3:29). Kita juga, sekarang ini, adalah bagian dari umat yang sama, dengan panggilan lain yang sama.
 

Veronika

Moderator
Staff member
#4
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Senin, 6 Juni

Tanda-tanda Akhir Zaman

Setelah Yesus menegur para pemimpin Yahudi tertentu yang telah menolak-Nya, Yohanes 12:20-26 mencatat suatu permintaan yang menarik. Kristus menceritakan mengenai orang non Yahudi yang ingin "bertemu dengan Yesus." Namun, orang-orang non Yahudi ini pertarna-tama membuat permohonan mereka kepada orang Yahudi yang setia kepada Yesus. Segera, hal serupa akan terjadi pada ukuran yang lebih besar: Sementara beberapa orang Yahudi menolak Yesus, orang lain akan menjadi sarana utama yang olehnya banyak orang non Yahudi akan memiliki pengetahuan tentang Dia. Betapa menarik karena permohonan ini datang segera setelah Yesus mengatakan kepada para pemimpin bahwa rumah mereka akan ditinggalkan sunyi. Sesungguhnya, yang lama akan segera memberikan jalan kepada yang baru, dan itu selalu menjadi kehendak Allah: Keselamatan orang Yunani, juga orang Yahudi.

Dalam Matius 24:1-14, gambaran apakah yang Yesus berikan baik kepada umat percaya yang setia, dan bagi dunia secara umum?

Yesus memberikan jawaban ini dalam menjawab pertanyaan mengenai tanda kedatangan-Nya dan berakhirnya dunia ini. "Yesus tidak menjawab kepada murid-murid-Nya oleh memisahkan kebinasaan Yerusalem dan hari besar kedatangan-Nya. la mencampurkan penjelasan-Nya tentang kedua peristiwa ini. Sekiranya Ia memaparkan kepada murid-murid-Nya peristiwa-peristiwa masa depan sebagaimana la melihatnya, mereka tidak akan sanggup menanggung pemandangan itu. Dalam kemurahan kepada mereka la mencampurkan penjelasan tentang kedua krisis yang besar itu, dan membiarkan murid-murid mempelajari maknanya sendiri.... Segenap pembicaraan telah diberikan, bukan saja bagi murid-murid, melainkan bagi mereka yang akan hidup pada peristiwa terakhir dalam sejarah dunia."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 262.

Satu hal yang sangat jelas dalam jawaban Yesus: Peristiwa-peristiwa yang menuntun kepada kedatangan-Nya kembali tidaklah menyenangkan. Yesus tidak meramalkan utopia di dunia atau masa pemerintahan damai seribu tahun di dunia. Deru perang, penyesatan, bencana alam, gereja menghadapi penganiayaan, mesias-mesias palsu, dan bahkan saudara-saudara palsu. Hal yang paling positif digambarkan di sini adalah janji bahwa "Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia" (ayat 14).

Dalam Matius 24:13, Yesus berkata bahwa "Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat." Apakah yang dapat Anda lakukan untuk menjaga diri Anda kuat secara rohani di tengah-tengah ujian yang dengan mudah dapat menjatuhkan dan membuat Anda menyerah? Kita telah melihat hal ini terjadi pada beberapa orang; mengapakah kita juga harusnya jangan bersikap bodoh dengan berpikir bila hal itu tidak akan terjadi pada kita?
 

Veronika

Moderator
Staff member
#5
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Selasa, 7 Juni 2016

Kehancuran Yerusalem

Bacalah Matius 24:15-22. Apakah yang Yesus bicarakan di sini? Sekali lagi, gambaran seperti apakah yang ia tampilkan sebagai tanggapan terhadap pertanyaan yang diajukan kepada-Nya?

"Pembinasa keji" umumnya dipahami sebagai pencemaran atau penajisan apa yang kudus. Yesus dengan jelas berbicara mengenai kehancuran Yerusalem, yang akan terjadi pada tahun 70 M. Seperti yang kita lihat kemarin, Yesus memadukan gambaran-Nya mengenai peristiwa ini dengan peristiwa-peristiwa seputar kondisi dunia sebelum kedatangan-Nya yang kedua. "Kristus melihat di Yerusalem suatu lambang dunia yang mengeraskan hati di dalam ketidakpercayaan dan pemberontakan, dan yang bergerak cepat menuju penghakiman pembalasan Allah."—Ellen G. White, Alla dan Omega, _lid. 8, hlm. 22.

Meskipun di tengah-tengah kehancuran, Tuhan berusaha untuk menyelamatkan semua orang yang akan diselamatkan. Dalam Kitab Lukas, Yesus sesungguhnya mengatakan kepada murid-murid-Nya untuk melarikan diri sebelum kebinasaan itu dimulai. "Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis" (Lukas 21:20-22).

Ketika orang-orang Kristen di Yerusalem melihat hal ini terjadi, mereka melarikan diri dari kota itu sebagaimana yang Yesus perintahkan, sedangkan sebagian besar orang Yahudi tertinggal dan binasa. Diperkirakan lebih dari satu juta orang Yahudi tewas selama pengepungan Yerusalem, dengan 97.000 orang lebih ditawan. "Namun, selama waktu jeda yang singkat, ketika bangsa Roma dengan tiba-tiba, bangkit mengepung Yerusalem, semua orang Kristen telah melarikan diri, dan disebutkan bahwa tak seorang pun dari mereka kehilangan nyawanya. Tempat mereka mengungsi adalah Pella, sebuah kota di kaki bukit sebelah timur Sungai Yordan, sekitar 17 mil (sebanding 20 km.) sebelah selatan Sungai Galilea."—The SDA Bible Commentary, jId. 5, hlm. 499.

Pikirkan suatu saat ketika seseorang memperingatkan Anda mengenai sesuatu dan, kemudian Anda sendiri kecewa, karena tidak memperhatikannya. Mengapakah adalah begitu penting agar, selain memperhatikan janji-janji indah dalam Firman Tuhan, kita juga memperhatikan amaran-amarannya?
 

Veronika

Moderator
Staff member
#6
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Rabu, 8 Juni 2016

Kedatangan Yesus yang Kedua

Jawaban Yesus dalam Matius 24 ini adalah berhubungan dengan "tanda kedatangan-Mu" (ayat 3); yaitu kedatangan Kristus untuk memerintah.

Apakah amaran lain yang Yesus berikan dalam konteks peristiwa-peristiwa sebelum kedatangan-Nya, dan bagaimanakah hal ini telah terlihat sepanjang sejarah? Matius 24:23-26.

Di sini Yesus, dari pandangan dunia bukan apa-apa kecuali seorang pengkhotbah keliling dari Galilea dengan sedikit pengikut, namun Dia meramalkan bahwa banyak orang akan datang dalam nama-Nya, mengaku sebagai pengikut-Nya, tentu saja, itulah yang telah terjadi sepanjang berabad-abad dan bahkan sampai hari ini, fakta yang memberikan kepada kita bukti kuat akan kebenaran Firman Tuhan.

Bacat Matius 24:27-31. Bagaimanakah Kedatangan yang Kedua itu dijelaskan? Apakah yang terjadi saat la datang?

Setelah memberikan amaran bahwa banyak orang akan datang mengaku sebagai Kristus, Yesus kemudian menjelaskan akan seperti apa kedatangan-Nya itu.

Pertama, kedatangan Yesus yang kedua bersifat pribadi, dan harfiah. Yesus sendirilah yang akan datang kembali ke dunia ini. "Tuhan sendiri akan turun dari sorga" (1 Tesalonika 4:16) adalah bantahan yang terang-terangan bagi mereka yang menganggap bahwa kedatangan Kristus adalah idealisme atau hanya sebuah era baru dalam sejarah manusia. Kedatangan-Nya akan kelihatan, seperti kilat di langit. "Setiap mata akan melihat Dia" (Wahyu 1:7). Gambaran sangkakala mengungkapkan kalau peristiwa itu akan keras suaranya, cukup keras bahkan membangkitkan orang mati! Dan yang paling penting, bila Kedatangan Pertama adalah sesuatu yang hina, pada yang Kedua, Yesus akan datang sebagai seorang Raja yang menang (Wahyu 19:16) pemenang atas semua musuh-Nya (dan musuh kita) (1 Korintus 15:25).

Pada sant begitu banyak kekacauan dan ketidakpastian akan masa depan di dunia kita ini, bagaimanakah kita dapat belajar untuk menarik kekuatan dan harapan pribadi dari janji Kedatangan Kedua itu?
 

Veronika

Moderator
Staff member
#7
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Kamis, 9 Juni 2016

Tetap Waspada

Kedatangan Yesus yang kedua merupakan puncak semua harapan Kristiani; hal itu adalah penggenapan semua yang telah dijanjikan kepada kita. Tanpa kedatangan itu apa? Kita akan menjadi buruk dalam tanah setelah mati, membusuk saja seperti semua orang lain. Tanpa Kedatangan Kedua dan semua yang terkait dengannya, segala sesuatu mengenai iman kita hanyalah bohong, memalukan, seperti semua yang telah dituduhkan oleh para kritikus dan penentang.

Tidaklah heran, maka dalam semangat mengantisipasi kedatangan-Nya, beberapa orang Kristen telah menetapkan tanggal kedatangan-Nya. Akhirnya, ada begitu banyak penentuan waktu berhubungan dengan kedatangan itu. Tentu saja, seperti yang kita ketahui, setiap penetapan tanggal kedatangan Kristus di masa lalu selama ini salah.

Bagaimanakah Matius 24:36, 42 menjelaskan mengapa para penentu tanggal kedatangan melakukan kesalahan?

Justru karena kita tidak tahu kapan Kristus akan kembali, kita diberitahu bahwa kita harus bersedia dan bahwa kita harus "tetap waspada."

Bacalah Matius 24:42-51. Apakah yang Yesus katakan di sini mengenai apa artinya tetap waspada dan bersedia bagi Kedatangan yang Kedua?

Yesus jelaskan Kita tidak tahu kapan Ia akan datang kembali. Lagi pula, la akan datang pada waktu yang kita tidak harapkan. Dengan demikian kita perlu selalu bersedia bagi-Nya ketika la datang kembali. Kita perlu hidup sebagaimana jika la akan datang kapan saja, sekalipun kita tidak tahu kapan itu. Pemikiran bahwa, baiklah, la sudah lama belum datang kembali; jadi saya dapat berbuat sekehendak hati, adalah sikap yang tepat seperti yang Yesus amarkan. Kita harus berusaha untuk setia karena kita mengasihi Tuhan dan ingin melakukan apa yang benar oleh Dia, tidak peduli kapan Dia datang. Selain juga, dengan semua ayat-ayat yang mengamarkan mengenai penghakiman, terutama kepada mereka yang memperlakukan orang lain dengan buruk, waktunya Kedatangan Kédua bukanlah persoalan. Cepat atau lambat, hukuman akan tiba.

Sebagai orang Advent yang telah lama percaya pada kedatangan Kristus kembali, bagaimanakah kita dapat memastikan kita tidak melakukan kesalahan, walaupun hanya dengan cara yang halus, seperti "hamba yang jahat" ini?
 

Veronika

Moderator
Staff member
#8
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Jumat, 10 Juni 2016

PENDALAMAN: Dalam konteks peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam Matius 24, Yesus juga berkata, "Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi" (ayat 34). Ayat ini membingungkan karena, tampaknya, semuanya tidak terjadi dalam waktu satu angkatan. Dr. Richard Lehmann, menulis dalam The Handbook of Seventh-day Adventist Theology, mengatakan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan "angkatan" cocok dengan bahasa kata Ibrani dor, yang sering digunakan untuk sekelompok atau kategori orang, misalnya suatu "angkatan pendurhaka dan pemberontak" (Mazmur 78:8). Dengan demikian, Yesus tidak menggunakan kata itu untuk menunjukkan waktu atau tanggal tetapi untuk merujuk kepada kategori orang jahat kepada siapa la sedang maksudkan dalam percakapan itu. "Sesuai dengan penggunaannya di Perjanjian Lama, Yesus telah menggunakan ungkapan 'angkatan ini' di luar pengertian waktu, untuk merujuk kepada kategori orang. Angkatan yang jahat mencakup semua orang yang berbagi sifat-sifat yang jahat. Matius 12:39; 16:4; Markus 8:38)."—Handbook of Seventh-day Adventist Theology (Hagerstown: Review and Herald ® Publishing Association, 2000), hlm. 904. Dengan kata lain, kejahatan akan tetap ada sampai akhir zaman, sampai Yesus datang kembali.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Sebagai orang Advent, bagaimanakah kita menghadapi apa yang tampak jelas seperti suatu penundaan? Bukankah generasi Advent sebelumnya memercayai bahwa Yesus akan datang kembali di masa hidup mereka? Dan bukankah banyak dari kita berharap hal tersebut terjadi di masa kita? Pada saat yang sama, bukankah mengharapkan Dia datang kembali pada waktu tertentu adalah bentuk penetapan waktu? Bagaimanakah kita mendapat keseimbangan yang balk dalam hal bagaimana kita menghadapi Kedatangan yang Kedua itu? Bagaimanakah kita menghindari sikap dari "hamba yang jahat" sementara saat yang sama menghindari sikap seperti mereka yang memperhatikan pada setiap berita tanda akan segeranya akhir itu? Bagaimanakah seharusnya sikap berada di antara mereka yang menantikan Kedatangan yang Kedua itu?
  2. Bacalah kembali penjelasan Yesus mengenai seperti apa Kedatangan Kedua itu. Bagaimanakah hal itu berbeda dengan beberapa pemikiran populer mengenai Kedatangan Kedua? Mengingat begitu jelas ayatayatnya, mengapa begitu banyak orang percaya pada hal-hal yang begitu bertentangan dengan Kitab Suci? Apakah alasan yang mereka berikan untuk mempertahankan pendapat mereka, dan bagaimana seharusnya kita menanggapinya?
  3. Bagaimanakah kita belajar hidup dengan penundaan? Siapakah tokoh-tokoh Alkitab yang harus hidup dengan penundaan, dan apakah yang dapat kita pelajari dari mereka? Sebagai contoh, Yusuf, Abraham, dan Sarah, Kaleb, dan Yosua? Juga, apakah yang Wahyu 6:9, 10 katakan mengenai penundaan?
 

Top