PETRUS DAN BATU KARANG-PELAJARAN 8, *14 - 20 Mei

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#1



Pekan ini kita akan melihat lebih dalam lagi mengenai Petrus. Khususnya kisah Petrus yang terdapat dalam Kitab Matius 16-17. Mari kita lihat kesimpulan apa yang dapat kita ambil melalui kehidupan Petrus ketika bersama-sama dengan Yesus. Matius 16:13-17; ayat dimana Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya dalam Matius 16:15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Matius 16:16 Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"

Jawaban Petrus timbul oleh dorongan Roh Kudus, Petrus mengakui bahwa Yesus lebih dari seorang nabi, pelayanan-Nya lebih luas dari Yohanes Pembaptis, Elia, ataupun Yeremia.[1] Dengan perkataan “Mesias” Yang diurapi, dan dengan pengakuan ini Petrus mengatakan bahwa Yesus adalah Kristus, Juru selamat, yang dijanjikan itu.

Namun Petrus yang sama juga yang telah mencoba “mengatur” Anak Allah, Mesias yang ia percayai ini. Dalam Matius 16:21-23; Yesus bahkan menghardik Petrus dengan kata-kata yang cukup tajam “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”— Matius 16:23

Petrus hanya memikirkan dirinya sendiri, memikirkan pikirannya sendiri, untuk mencari selamat dan melindungi diri serta Yesus. Namun Yesus memikirkan keselamatan umat manusia; Ia rela untuk memberikan segala sesuatu yang Ia miliki, bahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Pelajaran sekolah Sabat kita menyebutkan demikian “Petrus tidak jauh berbeda dengan murid yang lain, seperti juga Yudas, yang berusaha mengatur Yesus dan melaksanakan rencana-rencananya sendiri menurut apa yang ada di benaknya mengenai bagaimana Kristus itu seharusnya. Tetapi, berbeda dengan Yudas, Petrus sangat menyesal dan rela didisiplin dan diampuni.”[2]

Kadang-kadang kita juga demikian, kita suka untuk mengatur Tuhan atas impian-impian dan kerinduan-kerinduan yang kita impikan. Gantinya berserah dan mengijinkan Tuhan untuk mengatur hidup kita, kita lebih senang dan cenderung untuk mengatur Tuhan agar menjalankan perintah kita atas apa yang kita rindukan. Ayat berikut menyebutkan demikian:

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”— Yesaya 55:8-9Seperti ayat diatas, ketika kita mengetahui bahwa rancangan Tuhan lebih baik, lebih tinggi maka adalah pilihan yang terbaik untuk berserah kepada Tuhan; menyerahkan segala sesuatu yang kita impikan, kita rindukan bahkan yang kita miliki untuk diatur dan diarahkan oleh Tuhan kepada kehidupan yang lebih sempurna dan jauh lebih tinggi. Jika selama ini, kita telah mencoba “mengatur” Allah atas kehidupan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita; marilah kita seperti Petrus, belajar untuk mau didisiplin, dididik dan diampuni oleh Tuhan.

Petrus juga telah melihat Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang lalu berbicara dengan Elia serta Musa. [3] Kisah dalam Matius 17:1-9 memberikan satu pelajaran bagi kita, bahwa Yesus, dalam kemanusiaan-Nya memiliki kebutuhan akan penghiburan dan dorongan dari Elia dan Musa. Kemudian Yesus juga memberikan kekuatan, motivasi kepada murid-murid-Nya, Yohanes, Yakobus dan Petrus yang turut menyertai-Nya saat itu untuk “berdiri, dan jangan takut!” [4] Tentu sebagai manusia ada waktu-waktu dimana kita merasa lemah, sakit dan tidak berdaya. Disitulah kita sesama manusia perlu untuk saling menguatkan, saling tolong-menolong dan saling mengerti. Itu adalah kebutuhan dasar kita sesama manusia; untuk saling berkomunikasi, saling bertukar pikiran, dan agar dapat saling memberikan semangat.

Kisah Petrus dengan Yesus juga terdapat dalam Matius 17:24-27—dimana Yesus melakukan mujizat. Mengeluarkan uang empat dirham dari mulut ikan yang dipancing pertama kali oleh Petrus; guna membayar pajak untuk diri-Nya dan untuk Petrus. Perihal memberikan pajak, walaupun semua orang Yahudi dituntut untuk membayar pajak Bait Suci, imam-imam, orang Lewi, dan para rabi dikecualikan. Apa lagi Yesus? “Jika imam-imam dan orang Lewi dibebaskan karena hubungan mereka dengan Bait Suci, apalagi Dia yang bagi-Nya Bait Suci adalah rumah Bapa-Nya.” [5]

Namun demikian, Yesus tidak mau menjadi batu sandungan, mujizat yang dibuat oleh Yesus menunjukkan bagaiman otoritas-Nya yang bukan hanya saja berkuasa atas Bait Suci, namun juga atas semua ciptaan. Ada pelajaran yang baik yang dapat kita ambil dari Matius 17:24-27; janganlah kita menjadi batu sandungan bagi siapapun! Serta hindarilah perdebatan yang tidak perlu. Yesus dengan cara yang paling kreatif dan lemah lembut telah mengajarkan kepada Petrus akan kesalahannya. Bahwa Yesus memiliki otoritas bukan saja atas Bait Suci namun juga untuk seluruh alam semesta ini.

Yesus adalah batu karang itu, juru selamat dan Raja diatas segala raja. 1 kor. 10:4; Matius 7:24, 25; Efesus 2:20—memberikan gambaran yang pasti bahwa Juru Selamat itu adalah Yesus bukan Petrus. Bahkan Petrus sendiri dalam Kis. 4:8-12; 1 Pet. 2:4-8 telah merujuk kepada Yesus sebagai batu penjuru itu, batu hidup yang dipilih dan dihormati oleh Allah. Kehidupan Petrus telah memberikan satu pelajaran yang bermakna bagi kita manusia, namun demikian kehidupan Petrus, perkataannya, serta perbuatannya tidak dapat menyelamatkan kita. Tetapi kisah kehidupan, perkataan, serta tindakan Yesus telah memberikan keselamatan kepada kita manusia—dan hanya Yesus saja!
Tuhan memberkati


[1] Pelajaran Sekolah Sabat, Kitab Matius, hari Minggu 15 mei 2016, hlm. 90
[2] Pelajaran Sekolah Sabat, Kitab Matius, hari selasa 17 Mei 2016, hlm. 92
[3] Matius 17:2-3
[4] Matius 17:7
[5] Pelajaran Sekolah Sabat, kitab Matius, hari Kamis, 19 Mei 2016, hlm. 94 bandingkan dengan Alfa dan Omega, Jld
 

Attachments

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#2
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Sabtu, 14 Mei 2016

PETRUS DAN BATU KARANG

SABAT PETANG

BACALAH UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: GALATIA 4:4; IBRANI 7:26; MATIUS 16:13-20; EFESUS 2:20; MATIUS 16:21-27; 17:1-9.

Ayat HafaIan: "Lalu Yesus bertanya kepada mereka: 'Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?'" (Matius 16:15).


Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Matius 16:21).

Perjanjian Baru jelas: Yesus harus mati. Ketika la menghadapi dekatnya bayang Salib, Yesus berdoa: "Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalarn saat ini" (Yohanes 12:27). Inilah rencana Ilahi, ada dalam pikiran Allah, bahkan "sebelum permulaan zaman" (Titus 1:2, lihat juga 2 Timotius 1:9).

Itulah sebabnya Yesus tidak hanya menyatakan bahwa Ia akan mengalami banyak penderitaan dan dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga, tetapi Ia harus menghadapi hal-hal ini. Mengingat sifat alami Allah, kekudusan hukum, dan realitas kebebasan memilih, kematian-Nya adalah satu-satunya cara sehingga manusia dapat diselamatkan dari hukuman atas pelanggaran.

Pekan ini akan menggali lebih jauh kisah Yesus, sambil kita akan memberikan perhatian kepada Petrus dan bagaimana Petrus menyambut pelayanan akan Yesus saat la berjalan menuju kematian yang telah direncanakan "sebelum permulaan zaman."

*Pelajarilah pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat, 21 Mei.
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#3
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Minggu, 15 Mei 2016

"Engkau adalah Mesias"

Bayangkan seperti apa kesempatan itu bagi Petrus, yang telah bersama-sama dengan Yesus hampir dari sejak awal. Apakah yang pasti telah melalui pemikirannya ketika ia menyaksikan peristiwa yang menakjubkan satu demi satu: Penyembuhan, mengusir roh-roh jahat, memberi makan orang banyak, pengajaran yang mengagumkan, mengendalikan alam, membangkitkan orang mati, dan berjalan bersama-sama di atas air? Pertanyaan apakah (seperti, sekali lagi, mengapakah la mengizinkan akhir hidup yang begitu memalukan bagi Yohanes Pembaptis?) pasti telah tergiang-ngiang dalam benaknya, hari demi hari, menyaksikan hal-hal yang tidak seorang pun dalam sejarah pernah saksikan? Lagi pula, Yesus adalah Allah di dalam tubuh manusia dan hidup dan melayani umat manusia secara langsung (Galatia 4:4; lbrani 7:26; Yesaya 9:6; Lukas 2:10, 11). Maka, orang-orang yang berada di sekitar-Nya, yang tinggal dengan-Nya, dan yang adalah murid-murid-Nya akan memiliki banyak pengalaman yang unik.

Bacalah Matius 16:13-17. Pertanyaan apakah yang Yesus tanyakan kepada murid-murid-Nya, dan apa maknanya bahwa hanya Petruslah yang dicatat menjawab? Dan mengapakah jawabannya sangat penting?

Pernyataan Petrus mengenai Yesus sebagai "Mesias, Anak Allah yang hidup!" (ayat 16) adalah salah satu pendapat tertinggi dalam seluruh Kitab Suci. Petrus menyebut-Nya "Mesias," Yang Diurapi, dan dengan pengakuan ini ia mengatakan (dengan tepat, sebagaimana yang terjadi) bahwa Yesus adalah Kristus, Dia yang datang menggenapi semua perjanjian, janji-janji yang dibuat dengan Abraham dan kemudian Israel (lihat Galatia 3:16).

Selain itu, Petrus mengakui Yesus sebagai Kristus di daerah Kaisarea, Filipi. Iniadalah daerah orang non Yahudi. Beberapa hari sebelumnya, Petrus telah menyaksikan Yesus melayani bukan saja bagi orang Yahudi tetapi juga bagi orang bukan Yahudi. Dengan pertolongan Roh Kudus, Petrus mengakui bahwa Yesus adalah sosok yang lebih daripada seorang nabi Yahudi, seperti yang orang lain kemukakan. Pelayanan-Nya jauh lebih luas dari Yohanes Pembaptis, Elia, atau Yeremia. Sesungguhnya, pelayanan-Nya mencakup seluruh umat manusia; oleh karena itu, Yesus menyebut diri-Nya "Anak Manusia," menunjukkan hubungan pribadi-Nya dengan seluruh umat Manusia. Sebagaimana yang Alkitab tunjukkan kemudian, Petrus masih harus banyak belajar mengenai Yesus serta mengenai totalitas dan universalitas dari apa yang akan di lakukan-Nya.

Hal apa sajakah yang Yesus telah buat dalam hidupmu yang Anda dapat nyatakan sebagai kesaksian kepada orang lain? Mengapakah adalah baik untuk selalu memelihara hal-hal ini bagi Anda dan membagikannya?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#4
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Senin, 16 Mei 2016

“Di Atas Batu Karang ini”

Segera setelah pengakuan Petrus yang berani akan imannya dalam Yesus sebagai "Mesias, Anak Allah yang hidup," Yesus mengatakan sesuatu sebagai jawaban kepada Petrus.

Bacalah Matius 16:17-20. Apakah yang Yesus katakan kepada Petrus, dan bagaimanakah kita memahami apa yang dimaksudkan-Nya?

Bagian kalimat "di atas batu karang ini" telah menjadi pertentangan di dalam gereja Kristen. Orang Katolik rnenafsirkan "batu" itu berarti Petrus sendiri, dengan alasan bahwa Petrus adalah paus yang pertama. Namun, orang Protestan, dan dengan alasan yang tepat, menolak penafsiran itu.

Bukti-bukti Alkitabiah yang kuat dengan jelas mendukung gagasan bahwa Batu itu adalah Kristus sendiri dan bukanlah Petrus.

Pertama, di beberapa tempat Petrus merujuk kepada Yesus, dan bukan kepada dirinya sendiri, dengan menggunakan lambang batu (lihat Kisah 4:8-12, I Petrus 2:4-8).

Kedua, di seluruh Alkitab terdapat gambaran Allah dan Kristus sebagai batu; sebaliknya, manusia dianggap lemah dan tidak dapat dipercaya. "Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu" (Mazmur 103:14). "Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan" (Mazmur 146:3). Sebagaimana juga yang ditulis Yohanes mengenai Yesus: "Dan karena [la] tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab la tahu apa yang ada di dalam hati manusia" (Yohanes 2:25). Dan la pun mengetahui juga apa yang ada dalam Petrus (Matius 26:34).

Sebaliknya, apakah yang ayat-ayat iui katakan kepada kita mengenai siapa Batu itu sebenarnya dan di atas siapakah jemaat itu didirikan? (I Korintus 10:4; Matius 7:24, 25; Efesus 2:20).

"Alangkah kecilnya jemaat itu kelihatan ketika Kristus mengucapkan perkataan ini! Hanya sedikit sekali orang percaya, terhadap siapa segala kuasa Setan dan kuasa orang jahat ditujukan, meskipun demikian para pengikut Kristus tidak usah khawatir. Karena kekuatan mereka didirikan di atas Gunung Batu, maka mereka tidak dapat dikalahkan."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 21.

Apakah yang telah menjadi pengalaman Anda sendiri schubungan dengan kemungkinan melakukan kesalahan dan kelemahan umat manusia? Bagaimanakah Anda dapat menggunakan pengalaman-pengalaman ini untuk menolong Anda bersandar hanya pada Batu Karang itu?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#5
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Selasa, 17 Mei 2016

"Petrus sebagai Iblis"

Bacalah Matius 16:21-23. Mengapakah Yesus tiba-tiba begitu keras kepada Petrus?

Masalah Petrus bukanlah karena ia mencoba untuk melindungi Yesus. la mencoba untuk mengatur Yesus. Ia tidak lagi mengikuti Yesus; ia menyuruh Yesus untuk mengikutinya.

Yesus berkata, "Enyahlah Iblis!" (ayat 23) karena, sebagaimana halnya Iblis sendiri di padang gurun, Petrus telah menjadi ancaman terhadap misi Kristus.

Markus 8:33 mencatat bahwa selama percakapan ini, Yesus berpaling dan memandang murid-murid-Nya. la telah datang untuk menyelamatkan mereka. la tidak akan tergoda dengan cara yang lain, dan tentu saja bukan oleh salah seorang dari murid-murid-Nya sendiri, tidak peduli sebaik apa pun maksud balk yang murid itu pikirkan.

Seberapa baik pun Simon Petrus telah bertumbuh dalam jalan-Nya, ia terus berusaha mengendalikan banyak hal, termasuk Yesus sendiri. Dalam hal ini, Petrus tidak jauh berbeda dengan murid yang lain, Yudas, yang berusaha mengatur Yesus dan melaksanakan rencana-rencananya sendiri menurut apa yang ada di benaknya mengenai bagaimana Kristus itu seharusnya. Tetapi, berbeda dengan Yudas, Petrus sangat menyesal dan rela didisiplin dan diampuni.

Bacalah Matius 16:24-27. Apakah yang Yesus maksudkan ketika Ia berkata, "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya" (Mathis 16:25)?

Kita hidup dalam budaya yang mengatakan kepada kita untuk mengejar impian-impian kita, untuk mengorbankan segala sesuatu demi apa yang kita inginkan. Tetapi Yesus mengatakan kepada kita untuk melakukan yang sebaliknya; la mengajak kita untuk meninggalkan impian-impian kita dan mempercayakannya kepada-Nya. Petrus dan murid-murid secara bertahap belajar bagaimana iman yang sejati itu. [man yang sejati seharusnya tidak menjadikan pengalaman yang menarik untuk mengejar apa yang paling Anda inginkan. Iman yang sejati adaiah pengalaman yang menyakitkan untuk melepaskan apa yang Anda paling dambakan. Ketika Anda meninggalkan impian-impian Anda, Anda "kehilangan kehidupan Anda." Dan pada saat yang sama, Anda memperolehnya.

Apakah hal-hal yang Anda harus tinggalkan untuk mengikut Yesus? Mungkin pada saat itu hal-hal tersebut tampaknya begitu penting, tetapi lihatlah kembali, seberapa penting hal-hal itu sekarang?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#6
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Rabu, 18 Mei 2016

"Sedikit Dorongan dari Surga"

Bacalah Matius 17:1-9. Apakah yang terjadi di sini, dan mengapakah hal itu begitu penting baik bagi Yesus sendiri dan bagi murid-murid-Nya?

Yesus "tinggal di tengah kasih dan persekutuan surga, tetapi dalam dunia yang telah diciptakan.-Nya, la berada dalam kesepian. Sekarang surga telah mengirim utusan-utusannya kepada Yesus, bukan malaikat-malaikat melainkan manusia yang telah menanggung penderitaan dan kesusahan, dan yang dapat menaruh simpati kepada Juruselamat dalam ujian hidup-Nya di dunia ini. Musa dan Elia telah bekerja bersama-sama dengan Kristus. Mereka turut mengambil bagian dalam keinginan-Nya untuk keselamatan manusia.... Orang-orang ini, yang dipilih lebih dari setiap malaikat di sekeliling takhta, telah datang bercakap-cakap dengan Yesus mengenai peristiwa penderitaanNya, dan menghiburkan Dia dengan jaminan simpati surga. Harapan dunia, keselamatan setiap manusia, merupakan beban pertemuan mereka."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 33.

Betapa menarik bahwa Yesus, sang Anak Allah, dalam kemanusiaan-Nya memiliki kebutuhan akan penghiburan dan dorongan dari orang-orang ini, yang mereka sendiri tahu bagian mereka dalam penderitaan dan keputusasaan. Lukas mencatat bahwa mereka berbicara kepada-Nya tentang "tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem" (Lukas 9:31). Perhatikanlah kata digenapi, yang dapat juga diterjemahkan "memenuhi," lebih banyak bukti bahwa kematian Yesus diperlukan bagi keselamatan manusia. Dengan sebegitu banyak yang dipertaruhkan, tidak heran surga pun memerhatikan kebutuhan itu dan mengirimkan dorongan semangat ini.

Juga, terlepas dari semua yang mereka telah lihat dan dengar, Petrus, Yakobus, dan Yohanes akan mendapatkan lebih banyak alasan untuk percaya. Suara yang keluar dari awan itu pastilah menguatkan juga, setelah mereka melewati perasaan takut. Juga begitu membuka pikiran, ketika Matius mengatakan bahwa Yesus "datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: Berdiri lab, jangan takut! (Mathis 17: 7). Sekalipun di tengah-tengah semua yang la akan hadapi, Yesus menghibur dan mendorong semangat murid-murid-Nya.

Tidak peduli siapa pun kita atau seberapa teguh iman dan komitmen kita, kita semua setiap saat membutuhkan dorongan semangat. Ini juga berarti bahwa ada seseorang yang Anda kenal mungkin juga sedang membutuhkannya. Kepada siapakah yang Anda kenal yang Anda dapat berikan dorongan semangat sekarang ini?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#7
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Kamis, 19 Mei 2016

"Yesus dan Pajak Bait Allah"

Bacalah Matius 17:24-27. Apakah yang sedang terjadi di sini, dan apakah juga yang hal ini katakan kepada kita mengenai Yesus?

Walaupun semua orang Yahudi dituntut untuk membayar pajak Bait Suci, imam-imam, orang Lewi, dan para rabi dikecualikan. Jadi, pertanyaan ini mengenai apakah Yesus membayar pajak Bait Suci juga menjadi tantangan bagi pelayanan-Nya.

Ellen G. White menulis bahwa Petrus kehilangan kesempatan menyaksikan pada peristiwa ini, otoritas Kristus yang mutlak. "Oleh jawabnya kepada pemungut upeti, bahwa Yesus mau membayar upeti, sebenarnya ia telah menguatkan pengertian yang keliru tentang Dia yang sedang diusahakan untuk disebarluaskan oleh imam-imam dan penghulu-penghulu, Jika imam-imam dan orang Lewi dibebaskan karena hubungan mereka dengan Bait Suci, apalagi Dia yang bagi-Nya Bait Suci adalah rumah Bapa-Nya."--Alfa dan Omega, j1d. 6, hlm. 44.

Kita bisa belajar banyak hal dari jawaban Yesus yang ramah kepada Petrus. Gantinya merendahkan dia, Yesus dengan lembut menjelaskan kesalahannya. Selain itu, Yesus menyesuaikan dengan arah yang Petrus telah ambil dengan cara yang paling kreatif. Daripada hanya membayar pajak begitu saja–dengan begitu mengakui tanggung jawab-Nya membayar pajak Yesus mengambil pajak itu dari tempat yang lain Dari mulut seekor ikan.

Mukjizat ini tidak biasa; saat inilah satu-satunya Yesus melakukan sebuah mukjizat yang tampaknya bagi kepentingan-Nya sendiri. Tetapi itu bukanlah tujuan mukjizat ini. Sebalilcnya, mukjizat ini adalah pertunjukan kepada semua orang akan otoritas Yesus bukan saja atas Bait Suci tetapi atas semua ciptaan. Dad sudut pandang manusia, bagaimanakah kita bahkan bisa mulai memahami bagaimana Yesus dapat melakukan mukjizat ini? Dari semua yang Petrus telah saksikan, dapatkah Anda bayangkan apakah yang sedang terjadi dalam pikirannya ketika is melemparkan pancingnya, menangkap ikan yang pertama, dan menemukan jumlah yang tepat untuk pajak Bait Suci? (lihat Yesaya 40:13-17).

Meskipun bukan suatu keharusan bagi Yesus dan murid-murid-Nya untuk membayar pajak Bait Suci, Yesus meminta mereka tetap melakukannya, untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu. Apa sajakah cara yang dapat kita pelajari untuk meredakan situasi, terutama pada hal-hal yang tidak mutlak, untuk menghindari konflik yang tidak perlu?
 

Om Pandi

Administrator
Staff member
Advent
#8
Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa

Jumat, 20 Mei 2016

PENDALAMAN - PETRUS DAN BATU KARANG

PENDALAMAN: Kisah mengenai bagaimana Yesus menyuruh Petrus mengambil uang, berjumlah tepat yang dibutuhkan, dari ikan pertama yang Petrus tangkap adalah luar biasa, begitu luar biasanya sehingga beberapa pakar telah berusaha membantah hal itu. Itu hanya sebuah "potongan cerita rakyat," sebuah cerita lucu untuk menjelaskan sesuatu, tidak lebih. Tentunya, yang demikian bukanlah suatu penyelesaian yang tepat (sebenarnya itu tidak menyelesaikan masalah). Tentu solo, berbeda dengan jenis mukjizat lainnya—misalnya, menyembuhkan orang sakit, membukakan mata orang buta, membangkitkan orang mati, memberi makan orang yang lapar—yang saat ini sifatnya berbeda sama sekali. Di dalam Alkitab juga, kita memiliki kisah mata kapak yang mengapung (2 Raja-raja 6:2-7) dan guntingan bulu domba yang basah di alas tanah yang kering dan guntingan bulu domba yang kering di atas tanah yang basah (Hakim-hakim 6:36-40); jadi, sifatnya tidak juga asing dalam Kitab Suci. Mengapakah Yesus tidak hanya memberikan kepada Petrus uangnya dan mengatakan kepadanya untuk membayarnya daripada melakukan suatu perbuatan yang luar biasa untuk menyelesaikan masalah yang relatif kecil? Tidak ada ayat menyebutkannya. Namun, sebagai pelajaran ini katakan, hal itu menunjukkan kepada kita kekuatan Tuhan yang luar biasa, yang seharusnya tidak mengejutkan kita. Bagaimanapun juga, kita melihat bukti kuasa-Nya yang luar biasa setiap saat. Keberadaan kita, yang sangat jauh lebih kecil daripada alam semesta yang kelihatan, adalah wujud kuasa Allah kita. Jika Tuhan dapat melakukan hal itu, maka,sebuah uang logam dengan jumlah tertentu pada mulut ikan tertentu tidaklah ada apa-apanya. Walaupun ditulis dalam konteks yang berbeda, tepat sekali maksud dari Paulus: "0, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33). Catatan dalam Kitab Matius sekali lagi hanyalah manifestasi dari kebenaran ini.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Pergumulan Petrus untuk menyerahkan kehendaknya kepada Allah adalah juga pergumulan kita. Perumpamaan yang baik mengenai pergumulan ini dapat ditemukan dalam Maleakhi 1, di mana Allah meminta orang Yahudi untuk membawa binatang sebagai korban. "Kamu berkata: 'Lihat, alangkah susah payahnya!' dan kamu menyusahkan Aku, firman TUHAN semesta alam. Kamu membawa binatang yang dirampas, binatang yang timpang dan binatang yang sakit, kamu membawanya sebagai persembahan. Akan berkenankah Aku menerimanya dari tanganmu? firman TUHAN." (Maleakhi I:13). Mengapakah Allah memerhatikan jenis korban yang kita bawa kepada-Nya? Karena la mau kita memercayai-Nya dengan apa yang kita paling ingin pegang. Hal-hal apakah dalam hidupmu yang Anda temukan yang paling Anda sendiri genggam erat-erat? Bagaimanakah Anda dapat merelakannya kepada Tuhan?
  2. Pikirkanlah mengenai cara Yesus menangani situasi dengan pajak Bait Suci. Daripada mengerukkan situasi, la membiarkannya berakhir. Apakah yang hal ini ajarkan kepada kita mengenai konflik sehari-hari yang mungkin kita sendiri hadapi? Bagaimanakah Anda mengetahui kapan waktunya untuk berbicara dan kapan waktunya untuk berdiam diri?